AS Tolak Pungutan Tarif Iran di Selat Hormuz, Rubio: Jalur Air Internasional
AS Tolak Pungutan Tarif Iran di Selat Hormuz

AS Tegas Tolak Pungutan Iran di Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dengan tegas menyatakan bahwa Washington tidak akan menerima pungutan tarif yang direncanakan Iran atas Selat Hormuz. Perselisihan mengenai jalur air vital ini, bersama dengan inspeksi nuklir dan masalah rudal, telah menjadi sumber ketegangan dalam negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Washington dan Teheran sebelumnya telah menandatangani perjanjian pendahuluan untuk menghentikan konflik. Kedua belah pihak juga telah menyelesaikan putaran pertama pembicaraan di Swiss, membuka periode negosiasi 60 hari yang mencakup pencabutan sanksi, program nuklir Iran, dan masa depan Selat Hormuz.

Blokade Iran dan Dampaknya terhadap Harga Minyak

Blokade Iran atas Selat Hormuz selama perang dengan AS-Israel telah menyebabkan harga minyak global melonjak. Namun, lalu lintas kapal mulai meningkat sejak kesepakatan damai AS-Iran ditandatangani. Pemerintah Iran berulang kali menegaskan akan mempertahankan kendali atas selat yang menjadi rute pelayaran seperlima minyak global tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pada hari Selasa (23/6), pemerintah Iran dan Oman, yang berbagi Selat Hormuz, mengeluarkan pernyataan bersama bahwa mereka akan mempelajari administrasi jalur perdagangan dan biaya yang akan dikenakan untuk layanan, sambil tetap menegaskan kedaulatan mereka atas selat tersebut.

Rubio: Tidak Ada Negara Berhak Memungut Tarif di Jalur Air Internasional

Rubio, yang membuka tur regional di Uni Emirat Arab, mengatakan Washington akan menentang langkah tersebut. "Ini adalah jalur air internasional. Tidak ada negara yang diizinkan untuk memungut tarif atau biaya di jalur air internasional," tegas Menlu AS itu, dilansir kantor berita AFP, Rabu (24/6/2026).

Dia menambahkan bahwa ia yakin "semua negara di kawasan ini akan setuju". Sebelumnya, negosiator utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Hormuz "tidak akan pernah kembali" ke status quo sebelum perang, meskipun kedua belah pihak setuju untuk membangun jalur komunikasi agar tetap terbuka.

Evakuasi Pelaut dan Pemulihan Lalu Lintas

Sementara itu, badan maritim PBB mengatakan akan mulai mengevakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang terombang-ambing akibat blokade, dengan bekerja sama dengan Iran, Oman, dan Amerika Serikat setelah mengamankan "jaminan keselamatan yang diperlukan". Lalu lintas di Selat Hormuz pada hari Senin lalu mencapai tingkat tertinggi sejak perang dimulai, menurut dua platform pelacakan maritim.

Meskipun jumlahnya masih hanya sedikit di atas 40 persen dari tingkat normal di masa damai, yakni sekitar 120 kapal per hari. Pemulihan lalu lintas ini menandai langkah positif setelah periode konflik yang panjang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga