AS Selesaikan Penarikan Pasukan dari Pangkalan Strategis Al-Tanf di Suriah
Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengonfirmasi bahwa seluruh pasukannya telah meninggalkan pangkalan militer Al-Tanf di wilayah Suriah. Pengumuman ini disampaikan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) yang menyatakan proses penarikan berlangsung dengan tertib dan telah rampung sehari sebelumnya.
Pasukan Suriah Ambil Alih Kontrol Wilayah Perbatasan
Menanggapi perkembangan tersebut, Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan bahwa unit-unit tentaranya telah mengambil alih kendali penuh atas area pangkalan Al-Tanf. "Pasukan kami telah menguasai Al-Tanf dan telah mulai melakukan penempatan di sepanjang perbatasan Suriah-Irak-Yordania," demikian pernyataan resmi dari pemerintah Damaskus.
Pangkalan Al-Tanf memiliki posisi strategis karena terletak di wilayah segitiga perbatasan antara Suriah, Yordania, dan Irak. Selama bertahun-tahun konflik di Suriah, pangkalan ini menjadi pos penting bagi pasukan koalisi pimpinan AS dalam operasi melawan kelompok jihadis ISIS.
Transisi yang Disengaja dan Penyesuaian Kondisi Lapangan
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menjelaskan bahwa penarikan pasukan dari Al-Tanf merupakan bagian dari transisi yang disengaja dan disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan. "Kepergian pasukan AS dari al-Tanf secara tertib telah selesai," tegas juru bicara CENTCOM seperti dilansir AFP pada Kamis (12/2/2026).
Laksamana Brad Cooper, Kepala CENTCOM, menegaskan bahwa meskipun telah menarik pasukan dari Al-Tanf, Amerika Serikat tetap siap menanggapi ancaman dari kelompok ISIS. "Menjaga tekanan terhadap jaringan militer tetap penting untuk melindungi kepentingan keamanan AS dan stabilitas kawasan," ujarnya.
Perubahan Aliansi dan Realitas Politik Baru
Perkembangan ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika konflik Suriah. Selama bertahun-tahun, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi menjadi mitra utama koalisi pimpinan AS dalam memerangi ISIS, terutama setelah kelompok teroris itu kehilangan wilayah teritorialnya pada 2019.
Namun, situasi politik mengalami pergeseran setelah jatuhnya rezim lama Bashar al-Assad lebih dari setahun yang lalu. Amerika Serikat kini semakin mendekatkan diri dengan pemerintah baru di Damaskus, dengan menyatakan bahwa kebutuhan akan aliansi dengan kelompok Kurdi sebagian besar telah berlalu.
Hubungan yang membaik antara Washington dan Damaskus semakin jelas ketika Presiden Suriah Ahmed al-Sharia mengunjungi Gedung Putih pada bulan November lalu. Kunjungan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa Suriah akan bergabung dengan koalisi anti-ISIS.
Posisi Pasukan AS Pasca Penarikan dari Al-Tanf
Setelah penarikan dari Al-Tanf dan kemajuan pemerintah Suriah di wilayah timur laut, pasukan Amerika Serikat sekarang sebagian besar bermarkas di pangkalan Qasrak di Hasakeh. Informasi ini dikonfirmasi oleh Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah yang memantau perkembangan konflik di negara tersebut.
Meskipun ISIS telah mengalami kekalahan teritorial yang signifikan, kelompok tersebut tetap menunjukkan aktivitas militer. Mereka dituduh bertanggung jawab atas serangan Desember lalu di Palmyra, di mana seorang penembak tunggal melepaskan tembakan ke arah personel Amerika, menewaskan dua tentara AS dan seorang warga sipil Amerika.
Operasi Berlanjut Melawan Ancaman ISIS
Washington tidak tinggal diam menghadapi ancaman yang berlanjut ini. Pemerintah AS telah melakukan serangan balasan terhadap target ISIS di berbagai wilayah Suriah. CENTCOM melaporkan bahwa dalam dua bulan terakhir saja, mereka telah membunuh atau menangkap lebih dari 50 militan ISIS dalam operasi kontra-terorisme.
Penarikan pasukan dari Al-Tanf tidak berarti penghentian keterlibatan Amerika Serikat di Suriah, melainkan penyesuaian strategis terhadap realitas politik dan keamanan yang terus berkembang di kawasan tersebut.