AS Siapkan Serangan Baru di Iran, Warga Sipil Diimbau Jauhi Fasilitas Pelabuhan
Jakarta - Amerika Serikat (AS) sedang bersiap untuk melancarkan serangan militer baru di wilayah Iran, dengan peringatan khusus kepada warga sipil. United States Central Command (CENTCOM) mengeluarkan pernyataan resmi yang meminta para pekerja pelabuhan Iran, personel administrasi, dan awak kapal komersial untuk menghindari semua fasilitas pelabuhan di sepanjang Selat Hormuz. Pernyataan ini dilansir oleh Al Jazeera pada Rabu, 11 Maret 2026.
Penutupan Selat Hormuz dan Kesiapan Militer Iran
Selat Hormuz, jalur pelayaran vital di Timur Tengah, saat ini telah ditutup oleh Garda Revolusi Iran menyusul konflik yang melibatkan AS dan Israel. Pasukan angkatan laut Iran telah ditempatkan di area tersebut untuk mencegah kapal-kapal melintas tanpa izin. Komandan angkatan laut Garda Revolusi, Alireza Tangsiri, menegaskan dalam unggahan di platform X bahwa setiap kapal yang bermaksud melewati selat harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari otoritas Iran.
Serangan Terbaru Iran terhadap Kapal Asing
Dalam perkembangan terbaru, Garda Revolusi Iran melaporkan telah melepaskan serangan terhadap dua kapal yang melintas di Selat Hormuz. Salah satu kapal yang diserang adalah kapal pengangkut barang curah dari Thailand, bernama Mayuree Naree, sementara kapal lainnya adalah Express Rome milik Israel yang mengibarkan bendera Liberia. Menurut pernyataan yang dimuat oleh kantor berita ISNA Iran dan dilansir AFP, kedua kapal terkena proyektil Iran dan berhenti setelah mengabaikan peringatan dari pasukan angkatan laut IRGC.
Dampak Serangan dan Respons Thailand
Dilansir Reuters, otoritas Thailand telah membuka suara menyusul serangan terhadap kapal dari negara mereka di Selat Hormuz. Kementerian Transportasi Thailand mengonfirmasi bahwa 20 awak kapal berhasil selamat, namun tiga awak kapal lainnya masih hilang. Para awak kapal yang selamat telah meninggalkan kapal dengan sekoci dan diselamatkan oleh angkatan laut Oman. Serangan ini menyebabkan ledakan di buritan kapal dan memicu kebakaran di kompartemen mesin, di mana tiga awak kapal yang hilang tersebut bekerja.
Serangkaian peristiwa ini memperlihatkan ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah, dengan AS yang bersiap untuk tindakan militer lebih lanjut dan Iran yang memperketat kendali atas jalur pelayaran strategis. Situasi ini berpotensi mempengaruhi stabilitas global dan keamanan maritim di wilayah tersebut.
