AS dan Iran Hadiri Perundingan Gencatan Senjata di Islamabad, PM Pakistan Ingatkan Tantangan Berat
Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa perwakilan Amerika Serikat (AS) dan Iran telah dipastikan akan menghadiri perundingan gencatan senjata yang digelar di Islamabad pada Sabtu (11/4) waktu setempat. Namun, Sharif dengan tegas mengingatkan bahwa kemajuan dalam perundingan ini akan memerlukan upaya dan kerja keras yang luar biasa dari semua pihak yang terlibat.
Kedatangan Delegasi dan Persiapan Ketat di Islamabad
Delegasi Iran, yang dipimpin oleh ketua parlemen negara tersebut, Mohammad Bagher Ghalibaf, telah tiba lebih dulu di Islamabad, seperti dilaporkan oleh AFP pada Sabtu (11/4/2026). Sementara itu, delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance masih dalam penerbangan menuju Pakistan. Sharif, dalam pidatonya pada Jumat (10/4) waktu setempat, menyatakan, "Sebagai tanggapan atas undangan tulus saya, para pemimpin kedua negara akan datang ke Islamabad. Di sana, negosiasi akan digelar untuk mewujudkan perdamaian."
Ibu kota Pakistan telah disiapkan dengan pengamanan yang sangat ketat untuk menyambut perundingan bersejarah ini. Semua rute menuju Hotel Serena, lokasi di mana perundingan akan berlangsung, telah diblokir sepenuhnya. Spanduk-spanduk besar dan papan digital di sepanjang jalan raya Islamabad memamerkan acara yang dijuluki sebagai "Perundingan Islamabad", menandakan pentingnya momen ini bagi stabilitas regional.
Latar Belakang dan Tujuan Perundingan
Perundingan ini diselenggarakan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk gencatan senjata sementara selama dua minggu pada Selasa (7/4) waktu setempat, yang secara efektif mengakhiri pertempuran yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu. Pembicaraan di Islamabad bertujuan untuk memfinalisasi gencatan senjata tersebut dan mengubahnya menjadi perjanjian yang lebih permanen.
Sharif menekankan dalam pidatonya, "Gencatan senjata sementara telah diumumkan, tetapi sekarang ada tahap yang lebih sulit di depan: tahap mencapai gencatan senjata yang langgeng, menyelesaikan masalah-masalah rumit melalui negosiasi. Ini adalah tahap yang, dalam bahasa Inggris, disebut sebagai 'penentu keberhasilan atau kegagalan'." Dia juga berjanji bahwa pemerintahannya akan "melakukan segala upaya untuk membuat perundingan ini berhasil".
Niat Baik Iran dan Ketidakpercayaan yang Mendalam
Perundingan AS-Iran di Islamabad ini berlangsung dalam suasana di mana kedua negara masih memiliki perbedaan pendapat yang signifikan mengenai tuntutan utama dalam gencatan senjata, serta saling menunjukkan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi. Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran yang terdiri atas lebih dari 70 orang, menyatakan bahwa Teheran datang dengan niat baik, namun mengakui adanya hambatan psikologis.
"Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak saling percaya. Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika selalu berakhir dengan kegagalan dan janji-janji yang tidak ditepati," ucap Ghalibaf, seperti dikutip oleh televisi pemerintah Iran saat tiba di ibu kota Pakistan.
Menjelang dimulainya perundingan, muncul sejumlah tanda tanya besar terkait syarat-syarat yang diajukan oleh delegasi Iran. Teheran dengan tegas menegaskan bahwa gencatan senjata selama dua minggu harus juga diterapkan di Lebanon, di mana Israel masih terus melancarkan serangan pengeboman terhadap kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran. Selain itu, Iran juga menyerukan agar pembekuan aset-asetnya di luar negeri akibat sanksi AS segera dicabut sebagai bagian dari proses negosiasi.
Peringatan Keras dari Wakil Presiden AS JD Vance
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi AS yang mencakup utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, juga menunjukkan kewaspadaan yang sama dalam komentarnya kepada wartawan sebelum berangkat ke Pakistan.
Vance menyampaikan, "Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan terbuka." Namun, dia juga memberikan peringatan yang tegas, "Jika mereka berusaha mempermainkan kami, maka mereka akan mendapati tim negosiasi yang tidak begitu responsif." Pernyataan ini mencerminkan sikap AS yang siap untuk bernegosiasi, tetapi juga tidak akan mentolerir upaya-upaya yang dianggap tidak serius dari pihak Iran.
Perundingan ini menjadi momen kritis bagi hubungan AS-Iran dan stabilitas di kawasan Timur Tengah, dengan Pakistan berperan sebagai mediator yang berusaha menjembatani perbedaan antara kedua negara adidaya tersebut.



