Arab Saudi Kecam Keras Serangan Iran ke Negara Teluk dan Penutupan Selat Hormuz
Arab Saudi Kecam Serangan Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Pemerintah Arab Saudi kembali menyuarakan kecaman keras terhadap serangan pembalasan Iran yang menargetkan negara-negara Teluk, yang juga merupakan tetangganya. Riyadh secara tegas mengutuk langkah agresif Teheran tersebut, sekaligus mengkritik kebijakan Iran yang menutup akses navigasi di Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pasokan energi dunia.

Kecaman Resmi di Forum PBB

Kecaman terbaru dari Kerajaan Arab Saudi ini disampaikan secara resmi oleh perwakilannya di Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Duta Besar Abdulmohsen bin Khothaila. Dalam pernyataannya yang dilansir oleh media Al Arabiya pada Rabu, 25 Maret 2026, diplomat Saudi itu dengan tegas menyebut serangan Iran sebagai tindakan "agresi" yang tidak dapat dibenarkan.

"Agresi Iran tidak dapat dibenarkan dan harus dipertanggungjawabkan," tegas Abdulmohsen bin Khothaila. Dia lebih lanjut memperingatkan pemerintah Teheran agar menghentikan kebijakan konfrontatifnya, karena dinilai tidak akan membuahkan hasil positif apa pun bagi stabilitas kawasan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Eskalasi Ketegangan di Timur Tengah

Ketegangan di kawasan Timur Tengah telah meningkat secara signifikan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Serangan koalisi AS-Israel tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.340 orang di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai bentuk pembalasan, Teheran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan aset-aset militer di Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi basis operasi militer Amerika Serikat. Arab Saudi sendiri menjadi salah satu sasaran utama dalam serangan balasan Iran ini, meskipun Riyadh mengklaim bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menangkis sebagian besar serangan tersebut.

Dampak Serius pada Selat Hormuz

Selain mengecam serangan militer, perwakilan Saudi juga menyoroti dampak serius dari kebijakan Iran yang mengganggu navigasi di Selat Hormuz. Sejak awal Maret 2026, Iran secara efektif telah memblokir perlintasan di selat strategis tersebut dengan menyerang kapal-kapal dagang dan hanya mengizinkan beberapa kapal tertentu untuk melintas.

Penutupan sebagian Selat Hormuz ini telah berdampak signifikan pada perdagangan global, menyebabkan biaya pengiriman melonjak dan harga minyak dunia mengalami kenaikan yang tajam. Sebelum konflik meletus, sekitar 20-30 persen konsumsi minyak harian global dan seperlima pasokan Gas Alam Cair dunia melewati jalur perairan penting ini.

Korban dan Kerusakan yang Ditimbulkan

Serangan balasan Iran telah mengakibatkan kerusakan material dan korban jiwa baik di Israel maupun negara-negara Teluk. Laporan menyebutkan bahwa sedikitnya 13 tentara Amerika Serikat yang bertugas di negara-negara Teluk tewas akibat serangan tersebut, sementara 290 personel militer AS lainnya mengalami luka-luka dengan 10 di antaranya dalam kondisi serius.

Abdulmohsen bin Khothaila menegaskan bahwa Iran harus meninjau kembali perhitungan strategisnya dan menghentikan kebijakan yang justru memperburuk situasi di kawasan. Kecaman Saudi ini mencerminkan keprihatinan mendalam terhadap stabilitas keamanan regional dan kelancaran pasokan energi global yang terancam oleh konflik yang terus bereskalasi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga