Arab Saudi Ingatkan Iran Soal Serangan Rudal dan Drone Berulang
Arab Saudi Ingatkan Iran Soal Serangan Rudal dan Drone

Arab Saudi Ingatkan Iran Soal Serangan Rudal dan Drone Berulang

Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, secara tegas mengingatkan Iran untuk "bersikap bijaksana dan menghindari salah perhitungan". Peringatan ini disampaikan pada hari Sabtu, 7 Maret 2026, menyusul peluncuran rudal dan drone yang berulang kali menargetkan wilayah kerajaan tersebut.

Pertemuan dengan Pakistan dan Pernyataan di Media Sosial

Setelah melakukan pertemuan dengan kepala militer Pakistan, menteri Saudi tersebut menulis unggahan di platform media sosial X. Dalam unggahannya, ia menyatakan: "Kami membahas serangan Iran terhadap Kerajaan dan langkah-langkah yang diperlukan untuk menghentikannya... Kami menekankan bahwa tindakan tersebut merusak keamanan dan stabilitas regional dan menyatakan harapan bahwa pihak Iran akan bersikap bijaksana dan menghindari salah perhitungan."

Serangan Drone dan Rudal yang Terus Berlanjut

Menurut laporan dari kantor berita AFP dan Euronews, Kementerian Pertahanan Saudi mengonfirmasi bahwa drone-drone kembali diluncurkan ke wilayah kerajaan pada Sabtu dini hari waktu setempat. Kementerian tersebut melaporkan telah berhasil mencegat empat drone yang menyerang ladang minyak Shaybah, yang merupakan fasilitas minyak sangat besar yang terletak jauh di dalam gurun Empty Quarter. Serangan ini menandai insiden kedua yang terjadi dalam rentang waktu hanya beberapa jam.

Sebelumnya, kementerian juga menyatakan telah mencegat serangan drone yang menargetkan area di sekitar ibu kota Saudi, Riyadh. Selain itu, dua rudal balistik yang ditujukan ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan juga berhasil dihalau oleh sistem pertahanan Saudi.

Operasi Militer Iran dan Pernyataan IRGC

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan peluncuran gelombang serangan ke-23 dalam "Operasi Janji Sejati 4". Operasi ini menyoroti pengerahan sistem rudal generasi baru yang menargetkan wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Dalam pernyataan resmi pada hari Jumat, 6 Maret waktu setempat, Kantor Hubungan Masyarakat IRGC menjelaskan bahwa fase terbaru operasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari serangan gabungan yang melibatkan drone dan rudal. Pernyataan itu, yang dilansir oleh media Iran Press TV, menyebutkan bahwa gelombang terbaru melibatkan sistem rudal canggih yang dirancang untuk menyerang banyak target secara bersamaan.

"Dalam gelombang ini, rudal berbahan bakar padat dan cair generasi baru menargetkan sasaran di wilayah pendudukan dan pangkalan-pangkalan Amerika di wilayah tersebut," tegas IRGC. Pernyataan tersebut lebih lanjut merinci bahwa markas besar pasukan Amerika Serikat di pangkalan Sheikh Isa, Juffair, Ali al-Salem, dan al-Azraq termasuk di antara target yang dihantam. Pangkalan-pangkalan ini merupakan pos-pos terdepan Amerika di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

IRGC juga mengklaim bahwa target di dalam wilayah yang mereka sebut sebagai "wilayah pendudukan" turut terkena serangan selama operasi tersebut. "Juga di wilayah penting dan sensitif Be'er Sheva di wilayah pendudukan, pusat teknologi canggih, fasilitas keamanan siber, dan pusat dukungan militer termasuk di antara target," tambah pernyataan itu, merujuk pada kota yang berfungsi sebagai pusat teknologi bagi Israel.

Implikasi bagi Keamanan Regional

Serangkaian serangan ini meningkatkan ketegangan yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Peringatan dari Arab Saudi menegaskan kekhawatiran yang mendalam mengenai dampak aksi militer Iran terhadap stabilitas dan keamanan regional. Situasi ini terus dipantau secara ketat oleh berbagai pihak internasional, mengingat potensi eskalasi yang dapat mempengaruhi tidak hanya negara-negara di kawasan tetapi juga kepentingan global terkait energi dan keamanan.