Ali Larijani, Penguasa Tak Resmi Iran yang Isi Kekosongan Pasca Kematian Khamenei
Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke kediaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran yang berusia 86 tahun itu. Insiden ini merupakan bagian dari gelombang awal perang terbuka antara AS-Israel melawan Iran, yang juga menghancurkan sebagian besar struktur komando negara tersebut. Dalam situasi kritis ini, Iran belum secara resmi menunjuk pengganti Khamenei. Namun, kekosongan kekuasaan sementara tampaknya diisi oleh Ali Larijani, pejabat keamanan nasional tertinggi Iran yang dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan mendiang ayatullah.
Pernyataan Keras dan Reputasi Pragmatis
Sekitar 24 jam pasca serangan di Teheran, Larijani muncul di televisi nasional dan media sosial dengan pernyataan mengecam keras AS dan Israel. Ia menyebut serangan itu telah "membakar jantung bangsa Iran" dan berjanji akan membalas dengan membuat "para kriminal zionis dan orang-orang Amerika yang tak tahu malu itu menyesali tindakan mereka." Meski pernyataan seperti ini khas dari pejabat Iran, Larijani juga membangun reputasi internasional sebagai negosiator pragmatis. Selama puluhan tahun berkarier, ia dikenal sebagai pengatur kekuasaan yang kejam di dalam negeri sekaligus juru runding ulung dengan negara-negara seperti Rusia, Cina, dan bahkan AS.
Namun, dalam kondisi perang terbuka saat ini, Larijani yang berusia 67 tahun langsung membantah klaim Presiden Donald Trump bahwa pemimpin Iran "ingin berbicara" dan perundingan akan terjadi. Melalui platform X, ia menegaskan, "Kami tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat." Posisinya di puncak hierarki Iran ini cukup mengejutkan, mengingat ia bukan ulama seperti Khamenei atau pendahulunya, Ruhollah Khomeini, yang merupakan figur keagamaan senior Syiah sejak Revolusi Islam 1979.
Latar Belakang Keluarga dan Karier Politik
Ali Larijani lahir di Irak pada 1958 dan bukan berasal dari kalangan ulama, tetapi keluarganya memiliki jaringan keagamaan dan politik yang sangat kuat. Majalah Time pernah menjuluki keluarganya sebagai "Keluarga Kennedy dari Iran." Ayahnya adalah seorang ayatullah agung, sementara saudara-saudaranya juga aktif di politik dan lembaga negara. Saudaranya, Sadeq Ardeshir Larijani, pernah memimpin lembaga peradilan Iran, dan Mohammad-Javad Larijani adalah tokoh senior kebijakan luar negeri. Bahkan, ayah mertuanya, Morteza Motahhari, merupakan sahabat dekat Khomeini selama revolusi.
Larijani secara resmi membangun kekuasaan melalui sistem politik Iran. Ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada 1981 dan menjadi komandan selama perang Iran-Irak. Pendidikan akademiknya mencakup seminari agama, gelar sarjana ilmu komputer dan matematika, serta gelar master dan doktor dalam filsafat Barat dari Universitas Teheran, dengan fokus pada filsuf Immanuel Kant. Secara paralel, ia memanfaatkan latar belakang militer dan koneksi keluarga untuk merintis karier politik, menjadi menteri kebudayaan di usia 30-an dan kepala lembaga penyiaran Iran selama satu dekade, di mana ia menggunakan media untuk propaganda pro-pemerintah.
Perjalanan Politik Penuh Tantangan
Karier politik Larijani tidak selalu mulus. Ia pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden pada 2005 tetapi gagal, kalah dari Mahmoud Ahmadinejad. Larijani kemudian menjadi sekretaris jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) dan kepala negosiator nuklir, sebelum mundur pada 2007 karena perbedaan pandangan dengan Ahmadinejad. Meski menghadapi ketegangan dengan kelompok garis keras, ia terpilih sebagai ketua parlemen pada 2008 dan menjabat selama 12 tahun, berperan penting dalam mengamankan dukungan untuk perjanjian nuklir JCPOA 2015.
Perjanjian itu dibatalkan oleh Trump pada 2018, dan Larijani kemudian mengawasi perjanjian kerja sama strategis 25 tahun dengan Cina. Ia mencoba kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada 2021 dan 2024, tetapi didiskualifikasi oleh Dewan Wali Iran tanpa penjelasan resmi. Spekulasi menyebut diskualifikasi ini terkait putrinya yang tinggal di AS atau upaya membuka jalan bagi kandidat rezim seperti Ebrahim Raisi. Raisi terpilih namun tewas dalam kecelakaan helikopter 2024, dan pemilu berikutnya dimenangkan Masoud Pezeshkian, yang menunjuk Larijani kembali sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Peran Kunci dalam Krisis Terkini
Dalam beberapa bulan terakhir, kewenangan dan akses Larijani kepada Khamenei disebut melampaui pengaruh Presiden Pezeshkian. Ia dipandang sebagai sosok di balik layar yang mendorong perundingan nuklir dengan AS dan bertindak sebagai utusan Khamenei untuk Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam wawancara dengan Al Jazeera sebelum serangan AS-Israel, Larijani mengungkapkan Iran telah memanfaatkan waktu untuk bersiap perang, "menemukan kelemahan dan memperbaikinya." Ia menegaskan Iran tidak mencari perang tetapi akan merespons jika dipaksa.
Dengan latar belakang ini, Ali Larijani kini muncul sebagai figur kunci yang mengisi kekosongan kekuasaan pasca kematian Khamenei, menggabungkan kekuatan militer, koneksi politik, dan kemampuan diplomasi dalam menghadapi krisis perang yang melanda Iran.
