Ali Larijani, Matematikawan dan Kepala Keamanan Iran, Tewas dalam Serangan Israel
Ali Larijani, Kepala Keamanan Iran, Tewas Diserang Israel

Ali Larijani, Matematikawan yang Jadi Kepala Keamanan Iran, Tewas dalam Serangan Israel

Ali Larijani, seorang tokoh kunci di Iran yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, dilaporkan tewas dalam serangan yang dilakukan oleh Israel. Kematiannya terjadi di tengah eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, menandai hilangnya salah satu figur paling berpengaruh di negara tersebut.

Profil dan Peran Strategis Larijani

Lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, Larijani berasal dari keluarga terkemuka di Amol, Iran, yang sering dijuluki sebagai "Keluarga Kennedy dari Iran" karena pengaruh politiknya yang luas. Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, adalah seorang cendekiawan agama terkemuka, sementara saudara-saudaranya memegang posisi penting di lembaga peradilan dan Majelis Pakar.

Larijani memiliki latar belakang akademis yang unik, dengan gelar sarjana matematika dan ilmu komputer dari Universitas Teknologi Sharif, serta gelar master dan doktor dalam filsafat Barat dari Universitas Teheran, di mana tesisnya berfokus pada filsuf Immanuel Kant. Karier politiknya dimulai setelah Revolusi Iran 1979, dengan bergabung ke Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebelum beralih ke pemerintahan.

Karier Politik dan Diplomasi Nuklir

Selama beberapa dekade, Larijani memegang berbagai jabatan strategis, termasuk Menteri Kebudayaan di bawah Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani dan kepala lembaga penyiaran negara IRIB. Antara 2008 dan 2020, ia menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran selama tiga periode berturut-turut, memainkan peran kunci dalam membentuk kebijakan dalam dan luar negeri.

Pada 2005, Larijani diangkat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan kepala negosiator nuklir Iran. Ia dikenal sebagai pendukung kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) dengan kekuatan dunia, yang menunjukkan sisi pragmatisnya dalam diplomasi internasional. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sikapnya mengeras, terutama setelah ia diangkat kembali ke posisi keamanan pada Agustus 2025 oleh Presiden Masoud Pezeshkian.

Eskalasi Konflik dan Kematian

Kematian Larijani terjadi dalam konteks perang AS-Israel melawan Iran, yang dimulai setelah serangan udara menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari. Larijani, yang terakhir terlihat di depan umum selama parade Hari Al-Quds di Teheran pada 13 Maret, menjadi pejabat tertinggi Iran yang tewas oleh Israel sejak Khamenei.

Media pemerintah Iran juga melaporkan kematian Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan paramiliter Basij, dalam serangan terpisah. Larijani sebelumnya telah meningkatkan retorikanya terhadap AS dan Israel, menolak negosiasi lebih lanjut dan berjanji untuk membalas jika pasukan AS memasuki Iran.

Warisan dan Pengaruh

Larijani meninggalkan warisan sebagai sosok yang kompleks: seorang matematikawan dan filsuf yang terjun ke politik, dengan kemampuan untuk bernegosiasi secara pragmatis namun juga mengambil sikap keras saat diperlukan. Ia memainkan peran penting dalam dewan transisi yang menjalankan Iran setelah kematian Khamenei, membantu mengatur suksesi kepemimpinan sesuai konstitusi.

Kematiannya diperkirakan akan berdampak signifikan pada strategi keamanan dan diplomasi Iran, mengingat pengalamannya yang luas dalam urusan nuklir dan hubungan internasional. Analis menilai bahwa hilangnya Larijani dapat memperdalam ketegangan di kawasan, terutama dalam konteks perang yang sedang berlangsung.