Ali Larijani Gugur: Sosok Penting Iran Tewas dalam Serangan AS-Israel
Kepala keamanan sekaligus tangan kanan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Ali Larijani, gugur dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS). Kematian politikus senior ini menimbulkan gelombang reaksi dan balasan dari Iran. Berikut tujuh hal penting yang perlu diketahui tentang sosok kunci negara tersebut.
1. Gugur Saat Mengunjungi Putrinya di Teheran
Ali Larijani, yang berusia 67 tahun, tewas akibat serangan udara AS-Israel saat mengunjungi putrinya di pinggiran timur kota Teheran. Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan insiden ini pada Selasa (17/3). Larijani merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran, arsitek kebijakan keamanan negara, dan penasihat dekat Ayatollah Ali Khamenei hingga kematian pemimpin tertinggi tersebut dalam serangan udara bulan lalu.
2. Profil dan Peran Strategis Ali Larijani
Larijani menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan terakhir kali terlihat di depan umum selama parade Hari Al-Quds di Teheran pada Jumat (13/3). Ia adalah pejabat Iran tingkat tertinggi yang tewas oleh Israel sejak Khamenei. Selama beberapa dekade, Larijani dikenal sebagai wajah tenang dan pragmatis pemerintahan Iran—seorang intelektual yang menulis buku tentang filsuf Immanuel Kant dan menegosiasikan kesepakatan nuklir dengan Barat.
Namun, setelah serangan yang menewaskan Khamenei, nada bicaranya berubah drastis. Dalam penampilan di televisi pemerintah, ia menyampaikan pesan berapi-api: "Amerika dan rezim Zionis telah membakar hati bangsa Iran. Kita akan membakar hati mereka." Larijani memainkan peran kunci dalam dewan transisi yang menjalankan Iran setelah pembunuhan Khamenei.
3. Dinasti Keluarga yang Dijuluki "Keluarga Kennedy dari Iran"
Lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, Larijani berasal dari keluarga kaya dan berpengaruh di Iran. Majalah Time pada tahun 2009 menyebut mereka sebagai "Keluarga Kennedy dari Iran". Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, adalah cendekiawan agama terkemuka, sementara saudara-saudaranya memegang posisi penting di lembaga peradilan dan Majelis Pakar. Larijani menikah dengan Farideh Motahari, putri dari orang kepercayaan dekat pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.
4. Latar Belakang Akademis: Dari Matematika ke Filsafat
Berbeda dengan banyak rekan sejawatnya, Larijani memiliki latar belakang akademis sekuler yang kuat. Ia meraih gelar sarjana matematika dan ilmu komputer dari Universitas Teknologi Sharif pada tahun 1979, kemudian menyelesaikan gelar master dan doktor dalam filsafat Barat dari Universitas Teheran dengan tesis tentang Immanuel Kant. Setelah revolusi 1979, ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebelum beralih ke pemerintahan.
Karier politiknya meliputi:
- Menteri Kebudayaan di bawah Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani (1994-1997)
- Kepala lembaga penyiaran negara IRIB (1994-2004)
- Ketua Parlemen (Majlis) selama tiga periode berturut-turut (2008-2020)
5. Perjalanan Politik dan Kembali ke Bidang Keamanan
Larijani mencalonkan diri sebagai Presiden pada tahun 2005 tetapi tidak lolos. Ia diangkat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan kepala negosiator nuklir pada tahun yang sama, namun mengundurkan diri pada 2007 karena perbedaan dengan kebijakan nuklir Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Setelah meninggalkan parlemen pada 2020, ia mencoba mencalonkan diri lagi dalam pemilihan 2021 dan 2024, tetapi didiskualifikasi oleh Dewan Penjaga.
Pada Agustus 2025, Larijani diangkat kembali sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi oleh Presiden Masoud Pezeshkian. Sejak menjabat, pendiriannya semakin keras, termasuk membatalkan perjanjian kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Oktober 2025.
6. Diplomasi dan Retorika Keras di Tengah Perang
Meski dikenal pragmatis dan pernah mendukung kesepakatan nuklir 2015, Larijani mengadopsi sikap keras setelah eskalasi konflik. Hanya beberapa minggu sebelum serangan, ia dilaporkan terlibat dalam negosiasi tidak langsung dengan AS yang dimediasi Oman. Namun, serangan AS-Israel menghancurkan jalur diplomatik tersebut.
Dalam pidatonya, Larijani menolak laporan tentang keinginan bernegosiasi dengan AS, malah meningkatkan retorikanya. Pada 5 Maret, ia berjanji untuk menangkap dan membunuh pasukan AS jika mereka memasuki Iran. "Putra-putra pemberani Imam Khomeini dan Imam Khamenei sedang menunggu Anda," ancamnya. Ia juga turun ke jalan pada 13 Maret untuk memperingati Hari Al-Quds, menampilkan ketahanan di tengah serangan.
7. Balasan Iran atas Kematian Ali Larijani
Serangan rudal Iran sebagai balasan atas gugurnya Ali Larijani menewaskan dua orang di dekat pusat perdagangan Israel, Tel Aviv. Perusahaan kereta api nasional Israel menangguhkan operasinya karena dampak pecahan peluru di sebuah stasiun. Pihak berwenang melaporkan amunisi yang jatuh menghantam beberapa lokasi di Israel tengah, memicu sirene serangan udara di seluruh wilayah.
Kematian ini menambah jumlah korban tewas akibat serangan rudal di Israel sejak dimulainya perang Timur Tengah akhir Februari menjadi 14 orang. Gambar dari lokasi kejadian menunjukkan kerusakan parah, termasuk bangunan berasap, mobil terbakar, dan puing-puing bertebaran. Polisi dan tim penyelamat beroperasi di beberapa lokasi dampak, sementara layanan medis melaporkan korban luka-luka.



