Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki pijakan ideologis dan nilai yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh tekanan kelompok tertentu. Menurutnya, keberpihakan kepada masyarakat dan nilai inklusivitas harus menjadi dasar dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk keputusan yang berisiko tinggi.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Bedah Buku 'Babad Alas' di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa (12/5). "Jadi pemimpin itu seringkali dihadapkan pada pilihan yang sulit, kita bisa memilih nyaman atau berisiko, tapi saya ambil risiko itu ketika saya meyakini nilai-nilai keberpihakan tersebut," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Pengalaman Memimpin Kota Bogor
Berdasarkan pengalamannya memimpin Kota Bogor selama satu dekade, Bima menilai keteguhan memegang ideologi menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan kompleks di birokrasi maupun masyarakat. Ia mencontohkan keberaniannya membatasi izin penjualan alkohol di tempat hiburan malam demi melindungi generasi muda, meskipun menghadapi tekanan dari sejumlah pihak. Selain itu, prinsip inklusivitas juga menjadi landasan dalam menyelesaikan konflik pendirian rumah ibadah yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Strategi Membangun Harapan dan Tim
Lebih lanjut, Bima mengatakan bahwa ideologi saja tidak cukup tanpa strategi membangun harapan masyarakat dan membentuk tim birokrasi yang solid. Dalam pengelolaan sumber daya manusia, ia mengutamakan karakter, loyalitas, dan militansi sebelum kompetensi teknis dalam memilih pejabat. "Jadi ketika memilih kepala dinas, bagi saya karakter itu nomor satu. Adab itu nomor satu. Nomor selanjutnya baru kompetensi dan lain-lain," jelasnya.
Penguatan Moral dan Integritas
Untuk menjaga konsistensi nilai tersebut, Bima menerapkan penguatan moral melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat, dialog bersama aktivis, serta menjadikan keluarga sebagai benteng terakhir menjaga integritas. Ia menilai nilai-nilai kritis di lingkungan keluarga penting untuk mencegah penyimpangan, termasuk gratifikasi.
Pesan untuk Mahasiswa
Dalam kesempatan itu, Bima juga berpesan kepada mahasiswa agar mempersiapkan diri sejak dini menjadi pemimpin masa depan. Ia mengingatkan bahwa masa kepemimpinan berjalan sangat cepat sehingga harus dimanfaatkan dengan penuh dedikasi dan semangat pengabdian. "Dan bagi kalian yang nanti akan menjadi pemimpin atau bercita-cita jadi pemimpin, jangan lewatkan momen itu. Karena 10 tahun itu cepat sekali. Siapkanlah momen ketika kalian menjadi pemimpin. Ketika sedang menjadi pemimpin, do it with passion," tandasnya.
Sebagai informasi, kegiatan bedah buku tersebut turut dihadiri oleh Dekan FISIP Undip Teguh Yuwono, Asisten II Pemerintah Kota Semarang Hernowo Budi Luhur, serta para dosen dan mahasiswa FISIP Undip.



