Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya memperkuat semangat kolektif dalam menata pendidikan nasional. Hal ini dinilai krusial untuk melahirkan generasi yang kompeten, berpikir kritis, berbudaya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, transformasi pendidikan menjadi keharusan untuk menjawab berbagai tantangan perkembangan zaman.
Pentingnya Transformasi Pendidikan
Dalam keterangannya pada Kamis (7/5/2026), Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, menyatakan bahwa saat ini bangsa Indonesia berada di persimpangan. Filosofi pendidikan nasional belum sepenuhnya diterjemahkan dalam kurikulum pembelajaran, sementara tantangan zaman terus bermunculan. Hal ini menuntut transformasi sejumlah sistem yang ada.
Pernyataan tersebut disampaikan Rerie saat membuka diskusi daring bertema 'Dilema Pendidikan Masa Depan dan Masa Lalu: Ke Mana Arah Pendidikan Indonesia?' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 pada Rabu (6/5). Ia menegaskan bahwa sistem pendidikan nasional tidak boleh didasari oleh logika pasar semata. Lebih dari itu, sistem pendidikan harus diterapkan dalam kerangka yang lebih luas, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan konstitusi.
Perubahan Tuntutan Zaman
Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI dan anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mendorong semua pihak terkait untuk menerapkan sistem pendidikan dalam kerangka yang tepat. Menurutnya, perubahan tuntutan zaman saat ini tidak hanya membutuhkan sistem pendidikan yang mengedepankan aspek akademis dan kompetensi. Diperlukan pula sistem yang mampu melahirkan lulusan berkarakter serta memahami nilai-nilai budaya dan kebangsaan yang kuat.
Visi Indonesia 2045 dan Kualitas Perguruan Tinggi
Direktur Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek RI, Mukhamad Najib, mengungkapkan bahwa salah satu tujuan penerapan sistem pendidikan nasional adalah mewujudkan visi Indonesia 2045, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan. Najib mencatat bahwa pada 2025, jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai 4.416, dengan menghasilkan 1,7 juta lulusan setiap tahunnya. Dari segi jumlah, upaya mewujudkan visi Indonesia 2045 terlihat cukup serius.
Namun, Najib menyayangkan bahwa sebagian besar perguruan tinggi yang ada saat ini belum memiliki kualitas yang memadai. Ia mengakui bahwa perguruan tinggi di Indonesia masih berstatus sebagai teaching university, belum sepenuhnya menjadi riset university. Oleh karena itu, diperlukan upaya masif untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi nasional agar mampu mengantisipasi tantangan zaman.
Pendidikan Tidak Boleh Direduksi oleh Pasar
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Melani Budianta, berpendapat bahwa pendidikan tidak boleh direduksi hanya demi pasar dan industri. Menurutnya, pendidikan saat ini harus mampu melahirkan anak bangsa yang dapat menjawab tantangan yang semakin kompleks. Ia menyoroti terjadinya transformasi multidimensi di berbagai sektor, seperti lingkungan hidup, migrasi urban, transformasi digital, dan krisis kohesi sosial.
Melani menambahkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini rentan terhadap berbagai dampak transformasi multidimensi tersebut. Ia juga menekankan bahwa sistem pendidikan saat ini kehilangan roh dalam membangun ingatan kolektif dan warisan budaya kepada peserta didik, yang sangat penting dalam membentuk karakter mereka.



