Faisal, seorang pemuda tunarungu asal Sukabumi, hadir di Job Fair Tahap I: Jakarta Selatan Career Fest and Bazaar 2026 yang digelar di Gedung Nyi Ageng Serang, Setiabudi, Jakarta Selatan. Meski tidak dapat mendengar, gerak tangannya yang menerjemahkan bahasa isyarat menceritakan perjuangannya melampaui batas pendengaran. Dengan izin orang tua, ia merantau ke Jakarta untuk mencari kemandirian. "Orang tua sudah mengizinkan saya merantau karena saya ingin bekerja dengan kemampuan saya sendiri," ungkap Faisal melalui juru bahasa isyarat pada Rabu (8/7/2026). Saat ini ia tinggal di kos di Bekasi Timur dan menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri bursa kerja tersebut.
Pengalaman Lima Tahun dan Penolakan Berulang
Faisal bukanlah pencari kerja pemula. Ia memiliki pengalaman lima tahun bekerja di bagian pengepakan di sebuah minimarket di Tangerang, Banten. Namun, setelah kontraknya berakhir, ia telah menganggur selama tiga bulan. Penolakan demi penolakan ia terima, termasuk saat mengikuti job fair sebelumnya di Bekasi. "Oh, kamu tuli ya? Maaf, tidak bisa menerima," kenang Faisal menirukan jawaban yang diterimanya. Ia juga mencoba melamar di sektor perhotelan melalui informasi daring, tetapi komunikasi dengan HRD sering terputus begitu mengetahui kondisinya. "Saya merasa banyak hambatan. Sampai sekarang belum ada panggilan lagi padahal saya sudah apply ke mana-mana," tuturnya.
Stigma dan Kurangnya Edukasi Perusahaan
Menurut Faisal, hambatan terbesar bagi penyandang tuli bukanlah keterbatasan fisik, melainkan stigma masyarakat dan perusahaan. "Banyak orang memandang, 'Ah dia tuli ya, pasti tidak punya kemampuan, pasti bodoh, tidak bisa apa-apa.' Padahal itu karena mereka kurang edukasi," jelasnya. Ia menegaskan bahwa teman-teman tuli memiliki potensi yang sama, seperti menempuh pendidikan tinggi, mahir mengemudi, dan memiliki ketangkasan teknis. Ketulian hanyalah perbedaan cara berkomunikasi, bukan penghalang produktivitas.
Harapan untuk Lingkungan Kerja Inklusif
Kehadiran Faisal di job fair bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menuntut hak atas kehidupan yang layak. Ia berharap pemerintah dan perusahaan swasta membuka pintu lebih lebar dan melihat dari perspektif yang adil. "Kami tidak butuh dikasihani, kami butuh kesempatan. Karena teman tuli juga butuh kehidupan yang layak," pesannya. Ia meminta pemerintah untuk merangkul lebih banyak teman tuli dan mendengarkan masukan mereka secara langsung. "Saya berharap pemerintah bisa lebih banyak membantu mendukung teman tuli. Tapi coba melihat dari perspektif teman tuli secara umum, jangan melihat salah satu saja," kata Faisal.



