Mardani PKS: WFH Hari Apapun Boleh Asal Produktif, Bisa untuk Berkebun
Ketua Bappilu DPP PKS Mardani Ali Sera menyatakan tidak masalah jika work from home atau WFH diterapkan pada hari apapun dalam sepekan. Menurutnya, yang terpenting adalah produktivitas kerja tetap terjaga dengan ukuran yang jelas dan ketat.
Produktivitas Jadi Kunci Utama
Dalam pernyataannya, Mardani menekankan bahwa selama ukuran produktivitas jelas, WFH di hari apapun tidak menjadi masalah. "Hari apa pun asal ukuran produktivitasnya jelas nggak masalah. Malah bisa menghasilkan putaran ekonomi baru," ujar Mardani saat dihubungi pada Jumat, 27 Maret 2026.
Ia memberikan contoh konkret bagaimana waktu yang biasanya digunakan untuk perjalanan ke kantor dapat dialihkan ke aktivitas produktif lainnya. "Misal berkebun, beternak dan produk lainnya karena punya waktu hasil pengurangan waktu perjalanan yang bisa 2-4 jam jika pergi ke kantor. Sekali lagi ukuran produktivitasnya yang baku dan ketat," jelasnya.
Dukungan untuk WFH di Hari Jumat
Mardani juga tidak keberatan jika akhirnya hari Jumat yang dipilih untuk pelaksanaan WFH. Ia menegaskan bahwa libur panjang justru dapat meningkatkan produktivitas. "Jika ukuran kinerjanya jelas WFH sama dengan WFA (Work From Anywhere) artinya boleh saja di hari Jumat. Malah bisa produktif. Tiga hari tidak ke kantor tapi tetap produktif dengan keluarga bisa optimal. Yang utama mindset dan karakter ASN yang harus maju dan produktif," ucapnya.
Latar Belakang Kebijakan WFH
Kebijakan WFH ini muncul setelah Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa sejumlah menteri koordinator dan menteri teknis telah menyepakati pelaksanaan satu hari WFH per minggu. Tujuan utama adalah untuk penghematan bahan bakar minyak (BBM).
Tito menyebutkan bahwa pemberlakuan WFH tinggal menunggu laporan kepada Presiden Prabowo Subianto sebelum diumumkan secara resmi ke masyarakat. "Udah rapat kemarin, rapat hampir 3 atau 4 jam. Ya, tapi kita sepakat untuk satu suara berarti yang menyampaikan, ya saya nggak tahu siapa, (rapat) di Istana," kata Tito seusai konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu, 25 Maret 2026.
Meski demikian, Tito enggan membocorkan hari spesifik yang telah disepakati untuk WFH, karena hasil rapat masih harus dilaporkan terlebih dahulu kepada Presiden.
Dukungan Mardani terhadap fleksibilitas WFH ini menegaskan pentingnya adaptasi dalam dunia kerja modern, dengan fokus pada hasil dan produktivitas daripada kehadiran fisik di kantor.



