Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah meluruskan kekhawatiran yang beredar mengenai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Ia menegaskan bahwa isu yang menyebut APBN dalam keadaan mengkhawatirkan tidak berdasar.
Fundamental Ekonomi Masih Kuat
Dalam keterangan resmi yang diterima pada Senin, 11 Mei 2026, Said Abdullah menjelaskan bahwa meskipun ada berbagai isu negatif, fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Ia menyebutkan bahwa isu mengenai saldo APBN yang menipis, defisit di atas 3 persen, hingga potensi jebolnya APBN adalah informasi yang tidak tepat.
"Belakangan santer beredar isu dan kabar, saldo APBN menipis, defisit APBN akan menyentuh lebih dari 3 persen di akhir tahun, bahkan isu tentang APBN 2026 bisa jebol. Santernya isu ini beriringan pula dengan situasi ekonomi makro yang digambarkan kurang baik, ditambah dengan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat," ujar Said.
Apresiasi terhadap Kritik
Meski membantah isu tersebut, Said mengapresiasi kritik dan kekhawatiran dari pengamat serta akademisi sebagai bentuk kepedulian terhadap ekonomi nasional. Ia menekankan pentingnya respons bijak terhadap masukan tersebut. "Kita harus apresiasi dan respons bijak sejumlah kritik, dan alarm untuk waspada dari sejumlah pengamat, dan akademisi tersebut. Saya menganggapnya itu sebagai rasa sayang dan peduli. Yang kita khawatir kalau sudah apatis sehingga ada keengganan untuk berbicara, justru inilah yang tidak kita inginkan," imbuhnya.
Faktor Pendukung Pertumbuhan Ekonomi
Said menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen didukung oleh faktor musiman seperti Ramadan dan Idulfitri yang mendorong konsumsi rumah tangga, serta meningkatkan aktivitas industri, perdagangan, transportasi, hotel, dan restoran. Selain itu, percepatan realisasi belanja pemerintah sejak awal tahun juga berkontribusi signifikan. Pada kuartal I 2026, belanja pemerintah tumbuh 21,81 persen year-on-year dan menyumbang 1,26 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan ketahanan yang cukup baik, neraca perdagangan masih surplus 5,5 miliar USD, terjaga positif selama 71 bulan serta pertumbuhan kredit pada perbankan secara umum masih tumbuh positif," tegasnya.
Saldo APBN Rp 420 Triliun Utuh
Menanggapi isu saldo APBN 2026 hanya tersisa Rp 120 triliun, Said menegaskan bahwa Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah masih utuh sebesar Rp 420 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp 300 triliun ditempatkan dari Bank Indonesia ke bank himbara, dan penggunaannya harus mendapat persetujuan DPR. "Anggaran ini masih utuh, hanya Rp 300 triliun ditempatkan dari Bank Indonesia ke bank himbara. Artinya, SAL masih utuh sebesar Rp 420 triliun, bahkan pemerintah menerima imbal hasil dari penempatan SAL tersebut dari bank himbara. Sesuai ketentuan Undang-Undang APBN, SAL hanya bisa digunakan belanja bila ada persetujuan DPR," ujar Said.
Tantangan Ekonomi Kuartal II 2026
Meski optimistis, Said mengingatkan bahwa tantangan ekonomi pada kuartal II 2026 diperkirakan lebih berat. Kenaikan harga komoditas dan tekanan eksternal masih berlangsung, serta tidak adanya faktor musiman Lebaran dan low base factor dari kuartal II 2025. "Apakah momentum pertumbuhan ekonomi ini bisa terus kita jaga? Pada kuartal II 2026 tantangannya memang berbeda. Dua bulan ini kita menghadapi situasi yang memang lebih menantang. Harga komoditas naik, tidak ada lagi variabel lebaran, serta ketiadaan low base factor pada kuartal II 2025," katanya.
Said mendukung langkah pemerintah dan Bank Indonesia yang menerapkan kebijakan safe mode, seperti refocusing anggaran, pembatasan transaksi dolar, pembentukan Bond Stabilizer Fund, insentif yield lebih besar untuk penempatan dolar di bank himbara, serta penerbitan panda bond. "Dengan demikian pengelolaan APBN harus lebih hati-hati, saya setuju safe mode yang diaktivasi oleh Menteri Keuangan, dan Gubernur BI, dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan tersebut," ujarnya.



