Elite PDIP Deddy Sitorus Sentil AHY: Jangan Menghasut, Hormati Sikap Kami
Deddy Sitorus Sentil AHY: Jangan Menghasut, Hormati Sikap PDIP

Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus melontarkan kritik tajam kepada Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terkait pernyataan yang meminta PDIP tetap memberikan kritik konstruktif meski berada di luar pemerintahan. Menanggapi hal itu, Deddy meminta AHY tidak menghasut dan menghormati sikap politik yang diambil PDIP.

Pernyataan AHY Soal Posisi PDIP

AHY sebelumnya berbicara mengenai posisi PDIP di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (22/6). AHY menghormati posisi PDIP karena partainya juga pernah berada di luar pemerintahan. Menurutnya, setiap partai pasti memiliki kepentingan tersendiri di mana pun posisinya.

"Saya menghormati semua partai politik yang memiliki sikap dan pandangan tertentu. Semua punya agenda, semua punya kepentingan, tapi marilah kita meletakkan kepentingan bersama dan nasional kita di atas kepentingan partisan," kata AHY.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Demokrat juga tentu punya kepentingan, punya tujuan, dan kami juga pernah di oposisi, kami pernah menjadi the ruling party, sehingga bisa dikatakan Demokrat itu punya kelengkapan dalam pengalaman dan track record. Kami syukuri semua itu. Tentu masing-masing dengan konsekuensi dengan tantangan yang berbeda-beda," lanjutnya.

Kritik Konstruktif dari Oposisi

Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan ini mengatakan jika berada dalam koalisi pemerintah, maka perannya harus menjaga kelancaran program pemerintah. Sebaliknya, kata dia, ketika menjadi oposisi, harus memberi kritik membangun dan tidak boleh memecah belah bangsa.

"Ketika jadi oposisi tentu punya kepentingan memberikan pandangan-pandangan, bahkan kritik, tapi ya tentunya harus konstruktif, harus juga dengan solusi," ujar AHY.

"Tidak boleh kemudian memecah belah bangsa, tidak boleh juga mendiskreditkan seolah-olah semuanya salah. Tapi ketika ada sesuatu yang memang ada benarnya dan itu merupakan aspirasi masyarakat, pemerintah juga mendengar, pemerintah juga harus mau melakukan evaluasi dan lain sebagainya," lanjut dia.

AHY menilai pengawasan dan keseimbangan (checks and balances) juga hal yang penting dan dibutuhkan dalam negara demokrasi. AHY menitip pesan kepada Ketua Fraksi Demokrat Eddhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas untuk mengawal dari DPR.

Sentilan Pedas Deddy Sitorus ke AHY

Deddy awalnya berbicara mengenai banyaknya tudingan terhadap PDIP menjadi dalang aksi demonstrasi hingga partai-partai mempertanyakan posisi PDIP di dalam atau luar pemerintah. Deddy mengungkit PDIP bahkan pernah dituding sebagai dalang demo pada 2025.

"Kan dulu 2025 juga kita dituding sebagai dalang demo. Sekarang juga dituding jadi dalang demo. Nah, tudingan-tudingan ini kan terbantahkan sendiri. Tahun 2025 tidak ada satu pun orang PDI Perjuangan atau terkait dengan PDI Perjuangan yang diproses hukum oleh aparat, ya. Jadi, dengan sendirinya kan terbantahkan itu oleh fakta," kata Deddy di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6).

Ketua DPP PDIP ini mengungkap hal yang sama kembali terjadi pada 2026. Dia mengatakan salah satu kader PDIP Andi Widjajanto dituduh menjadi dalang demo.

"Nah, sekarang sama saja. Dituduh-tuduh Andi Widjajanto. Bahkan seorang menko seperti AHY ngomong, ya jangan menghasut," ujarnya.

"Ini lagi-lagi membuktikan bahwa memang berada di luar pemerintahan itu selalu mudah menjadi kambing hitam, ya," sambungnya.

Tudingan Tanpa Dasar Hukum

Dia menilai tudingan terhadap Andi Widjajanto tidak memiliki dasar hukum dan hanya didasarkan pada asumsi. Menurutnya, pihak-pihak yang mempertanyakan posisi PDIP didasari ketidakpuasan di dalam lingkungan pemerintah.

"Saya melihat dalam kasus kenapa partai-partai lain ribut soal posisi PDI Perjuangan itu, ini kemungkinan besar ketidakpuasan di kalangan mereka sendiri terhadap posisi mereka di dalam pemerintahan, atau mungkin mereka pengen dapat perhatian lebih dari presiden, saya nggak ngerti," ujarnya.

"Tetapi ini adalah bukti bahwa mereka itu ya asal bunyi saja kalau menurut saya, tanpa fakta-fakta yang mendukung," sambungnya.

Meski begitu, dia tak mempersoalkan banyaknya tuduhan-tuduhan ke partainya. Menurutnya, aksi mahasiswa yang terjadi merupakan gerakan murni dan bukan hasil rekayasa.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

"Saya kira ada yang bilang kan, what doesn't kill you make you stronger, iya kan? Jadi silakan aja mau menuduh-nuduh PDI Perjuangan. Kita melihat sendiri bagaimana sentimen publik justru menjadi positif karena melihat bahwa apa yang disuarakan mahasiswa itu, itu adalah kebenaran sejati yang ada di pikiran mereka, bukan rekayasa tanpa dasar untuk aksi-aksi mahasiswa," paparnya.

"Karena hampir tidak mungkin melakukan sebuah orkestrasi demonstrasi yang masif di seluruh Indonesia, hanya dengan melakukan atau mendorong pihak-pihak tertentu. Ini murni dari mahasiswa," lanjut dia.

Jadikan Kambing Hitam, Bukan Respons Aspirasi

Deddy meminta partai-partai politik koalisi pemerintah mendengarkan aspirasi mahasiswa. Dia meminta agar tak menjadikan PDIP kambing hitam untuk disalahkan.

"Tuntutan mahasiswa bukannya direspons, malah melebar ke PDI Perjuangan menjadi kambing hitam. Kalau mau cari kambing ya pas kurban, jangan pas hari-hari begini, gitu loh. Ya, bilang sama Pak AHY, sama Misbakun, cari kambing tuh pas ini aja, pas lebaran kurban, jangan pas rakyat dan mahasiswa sedang merasa aspirasi mereka diabaikan," tuturnya.