Budaya Flexing di Lembaga Publik: Antara Strategi Komunikasi dan Ancaman Etika Kerja
Budaya Flexing di Lembaga Publik: Ancaman Etika Kerja?

Budaya Flexing di Lembaga Publik: Antara Strategi Komunikasi dan Ancaman Etika Kerja

Di tengah derasnya arus media sosial, budaya pamer atau yang populer disebut flexing tidak lagi hanya menjadi ranah individu. Budaya ini telah merembes ke dunia organisasi dan institusi, termasuk lembaga publik yang seharusnya berfokus pada pelayanan masyarakat. Fasilitas kerja dipertontonkan dengan gencar, capaian dipoles agar tampak lebih spektakuler, dan simbol keberhasilan dikurasi dengan rapi untuk konsumsi digital.

Perubahan Paradigma Legitimasi Organisasi

Media sosial telah mengubah cara organisasi membangun legitimasi secara fundamental. Jika sebelumnya reputasi lahir dari konsistensi kinerja dan integritas proses yang transparan, kini kerap digantikan oleh visibilitas semata. Apa yang tampil rapi di layar sering kali dianggap sebagai representasi keberhasilan yang sesungguhnya. Padahal, realitas di balik layar bisa sangat berbeda.

Fenomena ini dapat dibaca melalui lensa teori impression management dalam perilaku organisasi. Teori ini, yang sejak lama menjelaskan kecenderungan individu untuk mengelola kesan di hadapan publik, kini juga diterapkan pada level organisasi. Lembaga publik pun mulai mengadopsi strategi ini untuk memperoleh penerimaan sosial dan dukungan politik.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Negatif pada Etika Kerja

Di balik tampilan yang terlihat wajar sebagai strategi komunikasi modern, muncul pertanyaan mendasar yang mengkhawatirkan. Apa yang terjadi ketika yang dipamerkan justru mengalahkan etika kerja yang seharusnya menjadi fondasi? Fokus pada penampilan luar dapat mengalihkan perhatian dari substansi pekerjaan yang sebenarnya.

Organisasi mungkin lebih sibuk mengkurasi konten untuk media sosial daripada memperbaiki proses internal atau meningkatkan kualitas layanan. Hal ini berpotensi menciptakan kesenjangan antara citra yang dibangun dan realitas kinerja yang ada di lapangan.

Implikasi bagi Lembaga Publik

Bagi lembaga publik, budaya flexing membawa implikasi serius. Pertama, dapat mengikis kepercayaan masyarakat jika yang ditampilkan tidak sesuai dengan kenyataan. Kedua, berisiko menurunkan moral pegawai yang merasa bahwa kerja keras mereka kurang dihargai dibandingkan pencitraan.

Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk menemukan keseimbangan antara kebutuhan komunikasi modern dan komitmen pada etika kerja yang solid. Transparansi dan akuntabilitas harus tetap menjadi prioritas utama, meskipun dalam era di mana visibilitas digital sering kali menggoda untuk dijadikan ukuran kesuksesan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga