Bobby Nasution Semprot Camat di Tapteng: 'Jangan Sok Paling Kerja'
Bobby Semprot Camat Tapteng: Jangan Sok Paling Kerja

Bobby Nasution Semprot Camat di Tapteng: 'Jangan Sok Paling Kerja'

Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, meluapkan kemarahannya kepada Camat Tukka, Yan Munzir Hutagalung, saat meninjau pembangunan tanggul dan sabo dam di sungai yang terkena bencana di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Insiden ini terjadi karena banyak warga yang mengeluh belum menerima bantuan, serta proses pembebasan lahan yang berjalan lambat, memicu amarah sang gubernur.

Keluhan Warga yang Tak Kunjung Teratasi

Bobby Nasution mengungkapkan bahwa setiap kali berkunjung ke Tapteng, masyarakat selalu mengeluhkan belum mendapat bantuan. "Pertama, setiap datang ke Tapteng pasti masyarakatnya keluhannya belum dapat bantuan," ujarnya usai ziarah ke Taman Makam Pahlawan di Medan dalam rangka HUT Sumut ke-78. Ia membandingkan dengan daerah bencana lain seperti Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Utara (Taput), di mana keluhan serupa tidak sebanyak di Tapteng.

Gubernur menekankan bahwa masalah utama terletak pada data yang belum lengkap. "Sudah sering kita sampaikan tolong datanya dipercepat, karena pure hanya datanya, bukan bantuan nggak ada. Bantuan ada, tapi datanya saja, baik dari tingkat paling bawah sampai dengan Pak Bupati-nya, sudah diingatkan berkali-kali," jelas Bobby. Ia merasa frustasi karena meski bantuan tersedia, ketidaklengkapan data menghambat distribusinya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Puncak Kemarahan Saat Tinjauan Sungai

Puncak emosi Bobby terjadi saat meninjau penanganan sungai yang akan dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Tukka. Bobby kesal karena proyek tersebut sudah berkontrak sebulan sebelumnya, namun belum bisa dimulai. "Kemarin yang membuat kita sedikit agak panas karena itu penanganan sungai, itukan kita minta fokuskan. Itu dari Kementerian PU sudah berkontrak satu bulan yang lalu belum bisa kerja, bayangin. Jangan nanti Kepala Balai kita kena teguran dari Kementerian PU, itu kerjaan Kementerian PU bukan dari Pemprov," ucapnya dengan nada tinggi.

Bobby yakin bahwa jika camat hingga kepala lingkungan (kepling) lebih proaktif, pembebasan lahan dapat segera dilakukan. Namun, karena warga belum mendapat bantuan, mereka enggan melepas tanahnya. "Itu kita inginkan segera, sudah sebulan belum bisa ngapa-ngapain karena persoalan di lapangan. Ya, kita minta yang di lapanganlah Pak Camatnya. Saya dulu pernah menjadi Wali Kota juga, bagaimana kerja-kerja di lapangan kita tahulah. Kalau camatnya nungguin, kepala desa nungguin, kepling nungguin pasti bisa jalan, ini sebulan nggak jalan-jalan, alasannya banyak sekali," tambahnya.

Dampak Bencana yang Mengkhawatirkan

Lebih lanjut, Bobby mengaku mendapat keluhan dari warga bahwa air naik ke permukiman hanya dalam satu jam setelah hujan mengguyur daerah tersebut. Ia sendiri menyaksikan langsung peristiwa itu, yang semakin memperkuat keprihatinannya atas lambatnya penanganan bencana. "Masyarakat merasa tanahnya mau diambil untuk pembangunan, bantuan apa-apa belum dapat, jadi kita minta dan kita tegur keras itu," tegas Bobby, menekankan pentingnya aksi cepat untuk mencegah dampak lebih parah.

Insiden ini menyoroti tantangan dalam penanganan bencana dan koordinasi antar tingkat pemerintahan di Sumatera Utara. Bobby Nasution berharap teguran kerasnya dapat memacu perbaikan dalam proses bantuan dan pembangunan di Tapteng, demi kesejahteraan masyarakat setempat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga