Warga Jaktim Keluhkan Bau Menyengat dan Jalan Becek Akibat Tumpukan Sampah di TPS Rawadas
Bau dan Jalan Becek Imbas Sampah Menggunung di TPS Rawadas Jaktim

Warga Jaktim Keluhkan Bau Menyengat dan Jalan Becek Akibat Tumpukan Sampah di TPS Rawadas

Warga di kawasan Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, mengeluhkan bau menyengat dan akses jalan yang becek menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Malaka 1. Hal ini disebabkan oleh tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rawadas pada Selasa, 31 Maret 2026. Kondisi ini semakin parah pasca-libur Lebaran, ketika aktivitas masyarakat, termasuk tradisi ziarah kubur, meningkat pesat.

Keluhan Warga Terkait Kondisi Tidak Nyaman

Seorang warga, Sahrul (49), menyatakan bahwa TPS Rawadas menjadi semakin tidak nyaman setelah Lebaran. "Emang biasanya ke makam, abis Lebaran kan juga ke sini biasanya. Bau menyengat, tidak nyaman lah pasti. Semoga diperluas jalanannya, kelihatan jalanannya, bisa parkir, dibersihin, jadi nyaman juga," ujarnya. Dia menambahkan bahwa jalan di sekitar TPS tertutup sampah yang menumpuk, mengganggu pemandangan dan menimbulkan aroma tak sedap yang semakin menyengat, terutama saat cuaca panas.

Keluhan serupa disampaikan oleh warga lain, Fivi (38), yang mengaku kesulitan melintasi area tersebut karena kondisi jalan yang becek dan tercampur sampah. "Jalanannya becek, jadi bau juga. Tanahnya tercampur sampah, jadi tidak bagus diinjak. Terganggu ke TPU, susah, aromanya, ya, ampun," kata Fivi. Dia menekankan bahwa akses menuju TPU menjadi terganggu dan tidak layak dilalui, sehingga menghambat aktivitas warga.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Permintaan Percepatan Pengangkutan dan Solusi Jangka Panjang

Fivi berharap pemerintah dapat mempercepat proses pengangkutan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang untuk mengurangi tumpukan di TPS Rawadas. Selain itu, dia mendorong adanya solusi jangka panjang, seperti relokasi TPS ke lokasi yang lebih memadai. "Harapannya, ya, pembuangan di Bantargebang bisa dipercepat agar dirapihin juga, jadi cepat selesai. Cari lahan juga buat pindah TPS, jadi pejalan kaki nyaman jalannya," ucapnya.

Fivi juga menyoroti bahwa kondisi sampah yang menumpuk tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan warga sekitar. Oleh karena itu, warga berharap adanya penanganan serius dari pemerintah daerah, baik dalam penambahan armada pengangkut sampah maupun penataan ulang lokasi TPS agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.

Penyebab Tumpukan Sampah Menggunung

Ketua RW 02 Pondok Kopi, Ninu Hadi Purwanto, menjelaskan bahwa tumpukan sampah di TPS Rawadas mencapai ketinggian dua hingga empat meter pada Selasa, 31 Maret 2026. "Hari ini menumpuk seperti ini karena tidak ada truk yang merapat ke TPS, sehingga sampah menumpuk hingga setinggi dua sampai empat meter," katanya. Dia menyebutkan bahwa sampah dari warga terus menumpuk tanpa bisa segera diangkut ke TPST Bantargebang.

Penumpukan ini juga terjadi karena aktivitas pengangkutan terhenti sementara, memaksa petugas kebersihan menumpuk sampah di TPS agar pelayanan kepada warga tetap berjalan. Kendala utama terjadi di TPST Bantargebang, di mana sejumlah truk yang sudah terisi sampah tidak bisa langsung melakukan pembuangan, sehingga harus kembali ke dinas lingkungan hidup tanpa mengosongkan muatan.

Akibat kondisi tersebut, volume sampah di TPS Rawadas terus meningkat. Ketinggian sampah di bagian dalam TPS mencapai tiga hingga empat meter, sementara di area pinggir jalan mencapai sekitar dua meter. Hal ini memperparah keluhan warga mengenai bau dan jalan becek, yang mengganggu akses menuju TPU Malaka 1 dan aktivitas sehari-hari di sekitar Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga