Nadiem Makarim Bacakan Pleidoi: Gesekan Kecil Bisa Jadi Dendam Besar
Nadiem Makarim Bacakan Pleidoi: Gesekan Kecil Jadi Dendam

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Pengadilan Tipikor, Selasa (2/6/2026). Dalam pembelaannya, Nadiem menyoroti budaya politik dan pemerintahan yang menurutnya turut memengaruhi kasus yang menjeratnya.

Pesan untuk Generasi Muda

Nadiem menilai kasus ini tidak bisa dilepaskan dari budaya dan iklim politik di pemerintahan. Ia berpesan kepada generasi muda yang bersiap mengabdi pada negara untuk memperhatikan segala aspek, termasuk tata krama politik. "Temukanlah keseimbangan antara profesionalisme dan tata krama politik. Karena gesekan kecil bisa jadi dendam besar," ujar Nadiem.

Pesan itu disampaikan berdasarkan pengalamannya selama menjabat Mendikbud. Menurutnya, bekerja dan mengabdi pada negara tidak cukup hanya dengan modal profesionalisme dan gagasan perubahan yang cepat. Banyak keputusan yang juga harus mempertimbangkan sikap politik. "Di pemerintahan, gerak cepat berisiko. Gagasan sering diartikan kesombongan. Banyak keputusan berdasarkan pertimbangan politik. Yang tidak saya antisipasi adalah besarnya gesekan internal yang merasa tersingkirkan. Banyak yang periuk nasinya terganggu," ungkap Nadiem.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pengakuan Kesalahan

Nadiem mengakui bahwa selama menjadi pejabat negara, ia mengabaikan faktor budaya politik yang berlaku. Ia mencontohkan tidak selalu hadir di acara yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya sebagai Mendikbud, sehingga banyak pihak yang tersinggung. "Saya kurang sowan karena saya tidak paham peta politik," tambahnya.

Ia juga kerap memangkas basa-basi di setiap pertemuan karena ingin segera masuk ke substansi. Menurutnya, ada yang beranggapan hal itu terlihat tidak santun. "Di dalam pemerintahan, ini menimbulkan persepsi angkuh dan kurang santun. Ini kesalahan saya saat menjabat menteri. Saya lupa itu jabatan politik," katanya.

Nadiem menyatakan bahwa bekerja di pemerintahan harus merangkul banyak pihak, suka atau tidak suka. "Saya remehkan ritual politik," ucapnya. "Saya sadar saya bukan pemimpin yang sempurna. Jadi menteri pada usia 35 tahun tanpa pengalaman birokrasi dan politik."

Harapan Bebas Murni

Nadiem meyakini bahwa semua tuduhan jaksa telah terbantahkan di mata hukum. Ia berharap dapat bebas murni dari kasus ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga