Bamsoet Puji Inovasi Radiogenomics Percepat Transformasi Kesehatan Nasional
Bamsoet Puji Radiogenomics Percepat Transformasi Kesehatan

Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo memberikan apresiasi tinggi terhadap deklarasi inisiatif radiogenomics yang digagas oleh Rhemedi Medical Services. Inisiatif ini dinilai sebagai langkah strategis dalam mempercepat transformasi sistem kesehatan nasional yang lebih prediktif dan berbasis data. Menurut Bamsoet, radiogenomics menandai pergeseran paradigma layanan kesehatan dari kuratif menuju pencegahan dan deteksi dini yang modern.

Data WHO dan Tantangan Skrining di Indonesia

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen kematian akibat penyakit tidak menular seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung dapat dicegah melalui deteksi dini dan intervensi berbasis risiko. Namun, di Indonesia, tingkat skrining masih sangat rendah. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa cakupan deteksi dini kanker payudara melalui SADANIS dan mammografi masih di bawah 30 persen pada tahun 2025. Kondisi ini membuat inovasi seperti radiogenomics menjadi sangat relevan dan mendesak untuk diterapkan.

“Radiogenomics menghadirkan cara pandang baru dalam dunia medis dengan menempatkan pencegahan sebagai prioritas utama. Kita tidak lagi menunggu orang sakit dulu, tetapi mulai membaca risiko sejak dini dengan pendekatan berbasis data yang lebih komprehensif,” ujar Bamsoet dalam keterangan tertulis pada Kamis, 14 Mei 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Integrasi Pencitraan Medis dan Profil DNA

Bamsoet menjelaskan bahwa inisiatif radiogenomics yang dikembangkan di bawah kepemimpinan dr. Rheza Maulana Syahputra mengintegrasikan pencitraan medis dengan profil DNA pasien. Teknologi ini memungkinkan identifikasi risiko kanker atau kelainan organ sejak fase sangat awal, bahkan sebelum gejala klinis muncul. Dalam praktiknya, pola tertentu pada hasil mammografi dapat dikaitkan dengan mutasi gen tertentu yang meningkatkan risiko kanker, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan lebih tepat sasaran.

“Pendekatan ini dikenal sebagai medical intelligence yang memanfaatkan analisis data untuk memetakan risiko kesehatan seseorang secara lebih personal. Dengan teknologi tersebut, dokter dapat melihat potensi penyakit bahkan sebelum gejala muncul. Sehingga, intervensi bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat sasaran,” sambungnya.

Dukungan terhadap Transformasi Digital Kesehatan

Bamsoet menuturkan bahwa penguatan medical intelligence berbasis data sejalan dengan arah transformasi digital kesehatan nasional yang tengah didorong oleh pemerintah. Integrasi data klinis, radiologi, dan genomik berpotensi menjadi tulang punggung sistem kesehatan masa depan. Selain itu, pendekatan ini juga dapat menekan beban pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pencegahan penyakit kronis yang lebih efektif.

“Inisiatif radiogenomics ini harus menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak daerah, termasuk wilayah dengan akses layanan kesehatan yang masih terbatas. Dengan demikian, dampaknya benar-benar terasa bagi kesehatan masyarakat,” urainya.

Deklarasi dan Partisipasi Masyarakat

Lebih lanjut, Bamsoet menyebut bahwa deklarasi inisiatif radiogenomics diwujudkan melalui layanan kesehatan terpadu di lingkungan MPR RI pada 11 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 200 peserta mengikuti pemeriksaan kesehatan yang terdiri dari sekitar 130 pemeriksaan payudara dan 70 pemeriksaan abdomen menggunakan ultrasonografi. Data Kementerian Kesehatan mencatat bahwa kanker payudara masih menjadi kasus kanker terbanyak pada perempuan Indonesia, dengan lebih dari 65 ribu kasus baru per tahun. Sementara itu, penyakit jantung dan diabetes terus mendominasi penyebab kematian di tanah air.

Bamsoet menilai tingginya partisipasi masyarakat pada acara tersebut mencerminkan kebutuhan yang mendesak terhadap layanan deteksi dini yang cepat dan terjangkau. “Kita melihat antusiasme masyarakat yang sangat tinggi. Ini bukti nyata bahwa kebutuhan terhadap deteksi dini memang mendesak dan harus dijawab dengan layanan yang mudah diakses serta berbasis teknologi,” pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga