Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia (UI), Profesor Semiarto Aji Purwanto, angkat bicara mengenai keterlibatan Polri dalam isu pangan yang kerap dipertanyakan publik. Menurutnya, langkah tersebut bukanlah bentuk intervensi atau cawe-cawe, melainkan upaya mengakselerasi pembangunan di sektor pertanian.
Polri Masuk Isu Pangan: Antara Privat dan Keamanan
Dalam bedah buku 'Mengawal Pangan Menuai Aman' di Pusat Studi Kepolisian STIK-PTIK, Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026), Semiarto menjelaskan bahwa pangan pada dasarnya adalah urusan privat atau domestik yang bukan ranah negara. Namun, kondisi tertentu memaksa Polri untuk turut serta. “Secara umum memang pangan ini kan satu hal yang sifatnya privat atau domestik, jadi mestinya bukan urusan negara. Tapi ada satu kondisi yang kemudian memaksa Polri dalam hal ini masuk,” ujarnya.
Akselerasi, Bukan Intervensi
Semiarto menegaskan bahwa peran Polri dalam ketahanan pangan bukanlah intervensi. “Saya tadi sampaikan bukan masalah intervensi, bukan masalah cawe-cawe masuk. Tetapi ini adalah upaya mengakselerasi, mempercepat satu bagian dari proses pembangunan teknis tertentu di bidang pertanian,” lanjutnya. Buku yang ditulis oleh Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo, Asisten Kapolri SDM Irjen Anwar, dan Irjen Susilo Teguh Raharjo dinilai sebagai upaya mendefinisikan ulang konsep keamanan yang selama ini identik dengan hukum dan ketertiban. Melalui kajian tersebut, ketahanan pangan ditempatkan sebagai dimensi keamanan yang perlu mendapat perhatian.
Justifikasi Akademik Keterlibatan Polri
Di dunia akademik, ada jargon publish or perish. “Kalau kita tidak menerbitkan gagasan, kita akan hilang. Bagi saya, peluncuran buku ini menjadi sebuah pernyataan bahwa Polri juga memiliki gagasan akademik yang layak disampaikan kepada publik,” kata Semiarto. Ia menambahkan, “Buku ini memberikan justifikasi akademik mengapa Polri masuk ke isu pangan. Ini bukan soal intervensi atau mengambil alih peran pihak lain, tetapi bagaimana Polri membantu mengakselerasi proses pembangunan pada sektor-sektor tertentu yang dianggap strategis.”
Perluas Cakupan: Transformasi Pedesaan dan Kesejahteraan Petani
Lebih jauh, Semiarto menilai pembahasan ketahanan pangan tidak boleh berhenti pada produksi bahan pangan. Isu tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka transformasi pedesaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Ia mencontohkan komoditas padi yang menjadi tulang punggung pangan nasional, namun harga yang dijaga tetap terjangkau membuat ruang peningkatan kesejahteraan petani relatif terbatas. “Kalau kita bicara petani padi, secara ekonomi mereka sering berada pada posisi yang sulit karena harga komoditasnya memang diharapkan tetap rendah agar terjangkau masyarakat. Karena itu perlu ada alternatif komoditas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sehingga warga desa memiliki motivasi untuk tetap bertahan dan berkembang di desa,” ujarnya.
Komoditas Bernilai Tinggi sebagai Solusi
Menurutnya, komoditas seperti jagung dan berbagai komoditas strategis lainnya dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan. Dengan begitu, desa tidak hanya berfungsi sebagai sentra produksi pangan dasar, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Ia berharap keterlibatan Polri dalam program ketahanan pangan dapat mendorong lahirnya lebih banyak komoditas bernilai tinggi yang diproduksi masyarakat desa. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Definisi Keamanan yang Meluas
Di sisi lain, Semiarto menilai peran Polri akan terus berkembang mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat. Jika pada masa lalu keamanan lebih banyak dipahami sebagai perlindungan terhadap gangguan fisik dan kriminalitas, kini definisinya semakin luas dan mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. Isu pangan menjadi salah satu contoh bagaimana konsep keamanan berkembang seiring perubahan zaman dan tantangan yang dihadapi bangsa. “Keamanan dari waktu ke waktu definisinya terus meluas. Mudah-mudahan Polri tetap setia menjadi bagian dari institusi yang melayani kebutuhan masyarakat sesuai tantangan zamannya,” pungkasnya.



