Sekolah Rakyat: Negara Hadir untuk Keluarga Miskin Ekstrem, Transformasi Siswa dan Dukungan Luas
Sekolah Rakyat: Negara Hadir untuk Keluarga Miskin Ekstrem

Perasaan campur aduk menyelimuti saat berada di tengah para pelajar istimewa dari Sekolah Rakyat. Dalam hati bergumam, inikah wujud nyata Pasal 31 UUD 1945, ketika negara hadir memberi pendidikan bagi semua, termasuk mereka yang tak terlihat atau the invisible people. Liputan6.com terjun ke lapangan untuk memastikan program Presiden Prabowo Subianto itu berjalan baik, dengan mendatangi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 06 Jakarta Timur.

Fasilitas Megah dan Konsep Asrama

Di depan gerbang masuk, papan besar dengan foto Presiden Prabowo menyambut dengan kutipan: 'Dan kelak, ketika anak-anak dari tepian sungai, lereng bukit, dan sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan: Di masa itu, pernah ada seorang Presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI (Purnawirawan) Prabowo Subianto.' Kutipan itu disampaikan oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul di Banjarbaru pada 12 Januari 2026.

Meski singkat, kutipan itu sarat makna mendalam yang menggambarkan bagaimana asa tengah dipupuk untuk masa depan para pelajar dari keluarga Desil 1 dan 2, alias kategori miskin ekstrem dan miskin. Siapa sangka, mereka yang tidak berpunya dapat bersekolah di gedung megah dengan fasilitas lengkap: lapangan olahraga, ruang kelas dengan laptop dan smart board, aula, ruang makan dengan meja kursi serta makanan tiga kali sehari, dan kamar tidur dengan kasur serta meja belajar.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sekolah ini menawarkan konsep asrama. Pelajar tidak bisa pulang kecuali masa liburan atau hanya dapat dikunjungi orang tua satu kali pada minggu terakhir tiap bulan. Tujuannya bukan membuat stres, melainkan menumbuhkan kedisiplinan, fokus belajar, dan kemandirian. Mulai dari cuci baju dengan tangan, menjemur, hingga menggosok seragam sendiri, mereka dituntut agar tidak menjadi remaja malas dan manja.

Sehari di Sekolah Rakyat: Disiplin Tanpa Gawai

Liputan6.com ditemani Gibran Prasnawati Ganda, siswa dengan predikat terbaik tahun ajaran 2025/2026. Dia bercerita kegiatan dimulai pukul 03.00 WIB. “Kita mulai diajak bangun untuk Tahajud, nanti jam 04.00 WIB Salat Subuh berjamaah. Setelah salat, olahraga kumpul di lapangan, lalu persiapan sekolah seperti mandi dan sarapan. Mulai masuk kelas sekitar jam 07.20,” kata Gibran usai menerima piagam penghargaan pelajar terbaik.

Gibran menceritakan kisah inspiratifnya selama setahun di Sekolah Rakyat. Tidak ada penyesalan; raut wajahnya semringah saat menuturkan kegiatan 24 jam tanpa gawai pintar. Aturan melarang pelajar membawa ponsel. Satu-satunya kesempatan membuka media sosial hanya saat jam belajar menggunakan laptop, dengan pengawasan ketat guru. “Tidak boleh bawa hape, laptop juga harus ditinggal di kelas. Jika butuh, harus izin ke wali asuh atau guru,” ungkap Gibran.

Menjadi murid terbaik butuh pengorbanan. Gibran mengaku menghabiskan waktu luang di perpustakaan atau mengerjakan soal setelah kelas, bukan PR, melainkan untuk mereview pelajaran. Dia mengaku tidak mengerti dorongan kuat untuk belajar. Sebelumnya, ia bersekolah di SMP Negeri namun semangatnya memudar hingga putus sekolah di semester pertama. “Hanya saja di Sekolah Rakyat berbeda, entah kenapa keinginan belajar saya menggebu sampai mendapatkan penghargaan ini,” tuturnya. Meski masih kelas 7, ia sudah menargetkan Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada. “Aku ingin ke UI atau UGM, keren kampusnya!” serunya.

Transformasi Siswa dan Peran Wali Asuh

Kepala Sekolah SRMP 06 Jakarta Timur, Regut Sutrasto, mengakui mendidik anak-anak istimewa adalah tugas mulia. “Mendidik anak-anak 'istimewa' ini luar biasa, karena mereka datang dari keluarga desil 1 dan desil 2. Mereka tumbuh di lingkungan keras, di mana bermimpi sering dianggap kemewahan tak terjangkau,” kata Regut. Satu tahun berjalan, banyak siswa yang awalnya tidak betah kini sebaliknya. Tata krama dan jiwa mereka terkendali. “Satu tahun lalu, banyak siswa datang dengan tatapan kosong dan perilaku 'agak liar' akibat lingkungan asal. Namun, setahun di bawah asuhan SR Handayani, transformasi drastis terjadi. Bahkan mereka memiliki tujuan yang disebut Proposal Hidup,” ungkap Regut. “Luar biasanya, meski baru SMP, sudah ada siswa yang mencantumkan rencana masuk FISIP setelah SMA, juga kampus besar seperti UI, UGM, atau ITB.”

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Peran wali asuh sangat penting. Anindra Kusuma Jaya, salah satu wali asuh, mengaku siap 24 jam mendampingi siswa, dari membangunkan tidur hingga memastikan tidak ada yang begadang. “Kita harus siap 24 jam, dari mereka bangun tidur kita yang bangunin. Malam waktunya istirahat, kita juga pastikan tidak ada yang begadang. Pendekatan persuasif dan verbal adalah caranya, jangan dibentak,” tegasnya. Anindra menyadari setiap anak membawa luka dan watak berbeda. “Ada yang tidak bisa dikerasin, ada yang butuh ketegasan. Saya coba pendekatan halus, saya anggap mereka keluarga sendiri.”

Ada momen haru saat seorang anak asuhnya yang yatim piatu mengaku rindu orang tua. “Saya pun mencoba menjadi orang tua dalam posisi tersebut,” ujarnya haru. Melihat mereka bertransformasi dari kehidupan jalanan menjadi berprestasi adalah hal tak ternilai. Anindra ingin terus mengasuh mereka hingga lulus. “Saya ingin di sini saja sampai angkatan pertama ini lulus. Saya ingin melihat proses mereka sampai tuntas,” tekadnya.

Dukungan Pengamat dan Parlemen

Pengamat Pendidikan Doni Koesoema mengapresiasi kinerja pemerintah dalam merealisasikan Sekolah Rakyat. “Pendirian Sekolah Rakyat kalau benar-benar disiapkan dengan baik, ini prestasi luar biasa. Tidak mudah mencari lokasi, membangun, dan mempersiapkan boarding school,” ujarnya. Gerak cepat pemerintah penting untuk menunjukkan keseriusan negara hadir bagi keluarga miskin yang tidak memperoleh akses pendidikan layak, dengan semangat memutus rantai kemiskinan melalui pembangunan SDM.

Namun, Doni mengingatkan perlunya pengawalan ketat, terutama dalam pendataan dan seleksi calon siswa, agar bantuan tepat sasaran. “Tujuannya bukan untuk orang mampu menyekolahkan anaknya. Ini untuk mereka yang benar-benar, kalau negara tidak hadir, tidak bisa memperoleh layanan pendidikan baik,” ucap Doni.

Wakil Ketua Komisi X DPR, MY Esti Wijayati, menyambut baik program ini. Sekolah Rakyat bertujuan memutus rantai kemiskinan dengan memberikan kemudahan akses dan fasilitas pendidikan bagi siswa tidak mampu, khususnya miskin ekstrem. Namun, ada catatan: pertama, keberlanjutan program dan skala prioritas wilayah; kedua, kepastian kurikulum. Sumber dan alokasi anggaran harus jelas, termasuk opsi menggunakan sekolah yang ada.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menepis stigma Sekolah Rakyat dengan fasilitas seadanya. “Walaupun ini sekolah untuk orang miskin, fasilitas yang disediakan Presiden Prabowo adalah fasilitas unggulan. Lahannya saja 8,5 hektare, ada laboratorium, lapangan olahraga, hingga ruang praktik pertanian dan perikanan,” ujarnya. Presiden meminta fasilitas setara sekolah unggulan, mulai dari kualitas pendidik, pembentukan karakter, hingga keterampilan. Siswa difasilitasi iPad, laptop, dan perlengkapan digital lainnya. “Sekolah Rakyat bukan untuk semua kalangan, melainkan dirancang khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem,” tutup Agus.