Indonesia dan Prancis Perkuat Strategi Kakao Berkelanjutan Lewat IndoKAKAO Fase II
RI-Prancis Perkuat Kakao Berkelanjutan Lewat IndoKAKAO Fase II

Pemerintah Indonesia dan Prancis menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat inovasi, kerja sama ilmiah, dan pembangunan pertanian berkelanjutan melalui Rapat Komite Pengarah (Steering Committee) Fase II Proyek IndoKAKAO. Pertemuan yang digelar di Jakarta ini diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama Kedutaan Besar Prancis di Indonesia dan The Centre de Cooperation Internationale en Recherche Agronomique pour le Developpement (CIRAD).

Fase Pertama Berhasil, Fokus Fase Kedua Perluas Dampak

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo menekankan pentingnya kolaborasi multipihak. "Keberhasilan pengembangan kakao berkelanjutan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin 29 Juni 2026. "Oleh karena itu, keterlibatan aktif kementerian, lembaga penelitian, perguruan tinggi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan organisasi petani menjadi faktor penting untuk memastikan berbagai inovasi yang dikembangkan dapat diterapkan secara luas."

Pelaksanaan fase kedua IndoKAKAO berlangsung dalam kerangka Tahun Inovasi Prancis-Indonesia 2026 dan sejalan dengan Joint French-Indonesian Strategy on Education, Research and Mobility yang disepakati kedua negara. Proyek ini bertujuan mendorong industri kakao yang lebih berkelanjutan, kompetitif, dan inklusif melalui penguatan penelitian, inovasi, pengembangan kapasitas petani, peningkatan kualitas pasca panen, serta penerapan praktik budidaya berkelanjutan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Capaian Nyata di Fase Pertama

Vice Counsellor of Cooperation and Culture Kedutaan Besar Prancis di Indonesia Vincent Degoul memaparkan capaian fase pertama. "Selama fase pertama, para ahli dari Indonesia dan Prancis telah melaksanakan 15 misi teknis dan menyelenggarakan berbagai pelatihan terkait kualitas kakao, fermentasi, dan agroforestri," jelasnya. Proyek ini berhasil membangun dua fasilitas fermentasi percontohan di Pendolo, Sulawesi Tengah, dan Jember, Jawa Timur, yang berkontribusi pada peningkatan praktik pascapanen dan mutu kakao.

IndoKAKAO juga mengembangkan versi Bahasa Indonesia dari alat agroforestri Shade Tree Advice dan mengidentifikasi praktik-praktik baik di tingkat lokal, termasuk model fermentasi kolektif yang diterapkan Koperasi Kerta Semaya Samaniya di Bali untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual kakao petani.

Menjawab Tantangan Struktural Sektor Kakao

Menurut Teguh, melalui proyek ini Indonesia dan Prancis memperkuat kolaborasi di bidang penelitian, inovasi, dan pertukaran pengetahuan guna menjawab berbagai tantangan struktural sektor kakao, termasuk produktivitas yang rendah, tanaman yang menua, ketahanan pangan, dan dampak perubahan iklim. Program ini diharapkan mendukung peningkatan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing industri kakao Indonesia di pasar global.

Vincent Degoul menambahkan, "Proyek IndoKAKAO merupakan salah satu wujud nyata komitmen bersama Prancis dan Indonesia untuk memperkuat kerja sama di bidang penelitian, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan. Kami mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai sejak pertemuan Komite Pengarah sebelumnya dan berharap berbagai kegiatan yang sedang berjalan dapat semakin memperkuat pertukaran pengetahuan serta memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan sektor kakao Indonesia."

Fokus Fase Kedua: Dari Output ke Outcome

Komite Pengarah menilai proyek IndoKAKAO telah berhasil bertransformasi dari tahap konseptual menuju implementasi operasional melalui kolaborasi kelembagaan yang kuat dan pelaksanaan teknis yang efektif. Untuk fase kedua, Komite merekomendasikan perluasan berbagai keberhasilan lokal menjadi transformasi sektoral yang lebih sistematis.

Ke depan, fokus program bergeser dari pelaporan keluaran (outputs) menuju pelembagaan hasil (outcomes) melalui penerjemahan bukti lapangan dan model-model percontohan menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti, standar teknis nasional, serta materi penyuluhan yang terintegrasi dalam strategi revitalisasi kakao nasional Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

IndoKAKAO akan memprioritaskan transformasi hasil penelitian menjadi solusi yang dapat diterapkan langsung oleh komunitas produsen kakao. Fokus kegiatan meliputi peningkatan praktik fermentasi dan mutu kakao, perluasan pendekatan agroforestri, penguatan kapasitas lokal, serta dukungan terhadap penyusunan peta jalan kakao berkelanjutan di Sulawesi Tengah.

Komitmen Jangka Panjang untuk Kakao Berkelanjutan

Melalui pertanian berkelanjutan, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi ilmiah, proyek ini mencerminkan komitmen bersama Indonesia dan Prancis untuk membangun masa depan sektor kakao yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Teguh menutup pernyataannya, "Nilai utama dari IndoKAKAO tidak hanya terletak pada kegiatan yang dilaksanakan di lapangan, tetapi juga pada kemampuan proyek ini dalam menghasilkan pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Berbagai pengalaman dan praktik baik yang dihasilkan perlu menjadi rujukan bersama untuk memperkuat pengambilan keputusan, mempercepat adopsi inovasi, dan mendukung pembangunan sektor kakao yang lebih tangguh dan berkelanjutan di masa mendatang."