Unhas Terapkan Sistem Pengamanan Ketat dengan Jammer Selama UTBK 2026
Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Sulawesi Selatan, telah mengambil langkah tegas untuk memastikan kelancaran dan kejujuran dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026. Kampus ini memasang alat penghalang sinyal atau yang dikenal sebagai jammer di seluruh lokasi penyelenggaraan ujian. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah potensi kecurangan yang melibatkan penggunaan perangkat elektronik selama ujian berlangsung.
Langkah Preventif untuk Jaga Integritas Ujian
Pemasangan jammer dilakukan sebagai bagian dari upaya Unhas dalam menjaga integritas proses seleksi masuk perguruan tinggi. Alat ini dirancang untuk memblokir sinyal telepon seluler, internet, dan komunikasi nirkabel lainnya di area sekitar ruang ujian. Dengan demikian, peserta UTBK 2026 tidak dapat mengakses informasi dari luar atau berkomunikasi dengan pihak lain selama ujian.
Kebijakan ini diumumkan oleh pihak universitas sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran akan praktik kecurangan dalam ujian nasional. Unhas berkomitmen untuk menciptakan lingkungan ujian yang adil dan transparan bagi semua peserta, sehingga hasil UTBK dapat mencerminkan kemampuan akademik yang sebenarnya.
Dampak dan Tanggapan dari Berbagai Pihak
Penerapan jammer selama UTBK 2026 telah memicu berbagai tanggapan dari kalangan pendidikan dan masyarakat. Sebagian pihak mendukung langkah ini sebagai upaya penting dalam memerangi kecurangan, sementara yang lain mengkhawatirkan dampaknya terhadap kenyamanan peserta. Namun, Unhas menegaskan bahwa alat ini hanya aktif selama jam ujian dan tidak mengganggu aktivitas lain di kampus.
Selain itu, universitas juga telah menyiapkan prosedur darurat untuk komunikasi penting, seperti dalam hal keadaan darurat medis atau teknis. Peserta diimbau untuk mempersiapkan diri dengan baik dan mengandalkan pengetahuan mereka sendiri selama ujian, tanpa bergantung pada bantuan dari luar.
Konteks UTBK 2026 dan Pentingnya Keamanan Ujian
UTBK 2026 merupakan bagian dari Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) yang digunakan oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia untuk menerima mahasiswa baru. Ujian ini mencakup berbagai mata pelajaran dan kemampuan kognitif, sehingga kejujuran dalam pelaksanaannya sangat krusial untuk memastikan kualitas lulusan.
Dengan memasang jammer, Unhas tidak hanya ingin mencegah kecurangan tetapi juga mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya etika akademik. Langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi institusi pendidikan lain dalam meningkatkan sistem pengawasan ujian.
Secara keseluruhan, keputusan Unhas untuk menggunakan teknologi penghalang sinyal selama UTBK 2026 mencerminkan komitmen mereka terhadap pendidikan yang berkualitas dan berintegritas. Hal ini sejalan dengan upaya nasional untuk memperbaiki sistem seleksi masuk perguruan tinggi di Indonesia.



