Ketua Komisi X DPR Tegaskan Pembelajaran Tatap Muka Tetap Paling Optimal
Ketua Komisi X: Sekolah Tatap Muka Tetap Paling Optimal

Ketua Komisi X DPR RI Tegaskan Keunggulan Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah

Jakarta - Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Hetifah Sjaifudian, secara tegas menyatakan dukungannya terhadap keputusan pemerintah yang membatalkan rencana penerapan sistem belajar dari rumah bagi siswa. Dalam pernyataannya yang disampaikan kepada para wartawan pada Rabu, 25 Maret 2026, politisi dari Partai Golkar ini mengapresiasi langkah tersebut dan menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka di sekolah tetap merupakan metode yang paling optimal untuk perkembangan peserta didik.

Pembelajaran Tatap Muka Lebih dari Sekadar Capaian Akademik

Hetifah menjelaskan bahwa keunggulan sekolah tatap muka tidak hanya terletak pada aspek pencapaian akademik semata. Menurutnya, interaksi langsung di lingkungan sekolah memainkan peran sangat krusial dalam pembentukan karakter serta kemampuan sosial anak-anak. "Bukan hanya untuk capaian akademik, tapi juga untuk pembentukan karakter dan interaksi sosial anak-anak kita," ucap Hetifah dengan penuh keyakinan.

Lebih lanjut, ia menyoroti adanya kesenjangan yang signifikan di antara para siswa apabila sistem belajar dari rumah diterapkan. Tidak semua peserta didik memiliki akses yang setara terhadap fasilitas pembelajaran digital, pendampingan penuh dari orang tua, maupun lingkungan belajar yang kondusif di rumah masing-masing. Hal ini berpotensi memperlebar jurang ketimpangan dalam dunia pendidikan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Belum Ada Urgensi untuk Kembali ke Pembelajaran Jarak Jauh

Merespons isu penghematan energi, khususnya bahan bakar minyak, yang sempat dikaitkan dengan wacana belajar dari rumah, Hetifah menyatakan bahwa urgensinya belum cukup kuat untuk mengubah sistem pembelajaran secara luas. Ia mengingatkan bahwa dengan penerapan sistem zonasi sekolah saat ini, sebagian besar siswa telah bersekolah di lokasi yang relatif dekat dari tempat tinggal mereka, sehingga dampak konsumsi energi dapat diminimalisir.

"Kalau dikaitkan dengan isu energi, saya melihat urgensinya memang belum cukup kuat untuk sampai mengubah sistem pembelajaran secara luas. Apalagi dengan sistem zonasi sekarang, sebagian besar siswa bersekolah relatif dekat dari rumah," jelas legislator dapil Kalimantan Timur ini.

Pentingnya Kajian Matang dan Sistem Pendidikan yang Adaptif

Hetifah menekankan bahwa setiap kebijakan pendidikan yang memiliki dampak signifikan harus melalui proses kajian yang matang, berbasis data empiris, serta mempertimbangkan segala konsekuensi secara menyeluruh. Tujuannya adalah untuk mencegah kebijakan tersebut justru memperburuk kesenjangan yang sudah ada di masyarakat.

Ke depan, ia berharap pemerintah dapat memfokuskan upaya pada penyiapan sistem pendidikan nasional yang lebih adaptif dan tangguh, sehingga siap menghadapi berbagai dinamika dan tantangan tanpa perlu terburu-buru mengambil langkah-langkah drastis yang berpotensi mengganggu proses belajar mengajar.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, telah menegaskan pembatalan wacana belajar dari rumah yang rencananya mulai berlaku pada April. Keputusan ini diambil setelah melalui koordinasi intensif dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Menteri Agama, dengan tujuan utama mengoptimalkan sektor pendidikan dan mencegah terjadinya learning loss di tengah situasi krisis global.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga