Kepsek SD di Jembrana Viral Akibat Komentar Tak Senonoh di Instagram, Klaim Typo
Seorang kepala sekolah dasar (SD) di wilayah Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, berinisial SK, menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial karena diduga mengirimkan komentar tidak senonoh pada sebuah unggahan Instagram. Insiden ini memicu kontroversi luas di kalangan netizen dan masyarakat setempat.
Komentar Kontroversial yang Memicu Polemik
Dalam unggahan yang viral tersebut, SK diketahui berkomentar 'lolok' pada konten kreator Instagram bernama Siti. Kata 'lolok' dalam bahasa Bali memiliki arti kelamin laki-laki, sehingga dianggap sebagai ucapan yang tidak pantas dan ofensif. Komentar itu tertulis: 'Siti Kamu kok suka lolok?' di kolom komentar unggahan Siti, seperti dilaporkan oleh sumber berita lokal.
Setelah komentar tersebut menyebar dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial, SK mengaku bahwa hal itu terjadi akibat kesalahan ketik atau typo. Ia menjelaskan bahwa maksudnya sebenarnya adalah menulis kata 'loloh', yang dalam bahasa Bali berarti jamu tradisional, bukan 'lolok'.
Tindakan Tegas dari Dinas Pendidikan
Merespons viralnya kasus ini, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jembrana segera mengambil langkah dengan memanggil SK untuk dimintai klarifikasi. Pertemuan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 25 Maret 2026, di mana pihak Disdikpora memberikan teguran lisan kepada kepsek yang bersangkutan.
Kepala Disdikpora Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, menyatakan bahwa dalam pertemuan itu, SK telah mengakui kesalahannya dan menyampaikan permohonan maaf. 'Kami sudah memanggil yang bersangkutan kemarin untuk memberikan klarifikasi sekaligus pembinaan. Dalam pertemuan tersebut, kami memberikan teguran lisan agar kejadian serupa tidak terulang kembali,' ujar Anom.
Lebih lanjut, Anom menambahkan bahwa SK telah membuat surat pernyataan sebagai bentuk komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pihak Disdikpora juga menekankan pentingnya etika dalam berkomunikasi di media sosial, terutama bagi seorang pendidik yang menjadi teladan bagi masyarakat.
Permohonan Maaf dan Klarifikasi dari SK
SK sendiri telah secara terbuka meminta maaf melalui komentar pada video yang diunggah oleh kreator konten Siti. Dalam permohonan maafnya, ia kembali menegaskan bahwa insiden ini murni disebabkan oleh typo atau salah ketik, tanpa ada niat buruk di balik komentar tersebut.
Kasus ini mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan media sosial, terutama bagi figur publik seperti kepala sekolah. Viralnya komentar tak senonoh ini juga menyoroti bagaimana kesalahan kecil dapat berdampak besar pada reputasi dan karier seseorang.
Dengan adanya teguran dari Disdikpora dan permohonan maaf dari SK, diharapkan kejadian ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih bijak dalam berinteraksi di dunia digital. Masyarakat pun diimbau untuk tidak serta-merta menyebarkan konten negatif tanpa verifikasi yang memadai.



