Dekan Biologi UGM: Riset Kelautan Perlu Diperkuat di Indonesia
Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Budi Setiadi Daryono, mengungkapkan bahwa eksplorasi laut di Indonesia hingga saat ini masih sangat terbatas, yakni belum mencapai 15 persen dari keseluruhan potensi wilayah perairan nasional. Ia menegaskan bahwa data kemaritiman memainkan peran krusial dalam mengidentifikasi potensi sumber daya laut yang tersebar di berbagai kawasan perairan Indonesia.
Eksplorasi Laut yang Masih Minim
Budi menyatakan hal tersebut dalam keterangannya di Yogyakarta, seperti dilaporkan Antara pada Minggu, 8 Maret 2026. "Data maritim ini sangat berharga. Laut Indonesia yang dieksplorasi juga belum ada 15 persen," ujarnya. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan dua pertiga wilayahnya berupa perairan, memerlukan dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan untuk membangun konektivitas sektor maritim.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversity di dunia karena memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, menempatkannya pada peringkat kedua atau ketiga terbesar di tingkat global. Dengan sebagian besar kekayaan tersebut berada di kawasan maritim, potensinya masih belum dimanfaatkan dan dieksplorasi sepenuhnya.
Ancaman terhadap Satwa Laut dan Perlindungan
Menurut Budi, sejumlah satwa laut kini menghadapi ancaman kepunahan akibat aktivitas perburuan serta penurunan populasi di alam. Oleh karena itu, pemerintah telah menetapkan perlindungan bagi beberapa satwa langka, termasuk:
- Enam spesies penyu
- Duyung (dugong)
- Hiu paus
- Pari manta
- Pari gergaji
- Lumba-lumba
- Kima
- Ikan napoleon
Kehidupan satwa tidak hanya terbatas pada ekosistem daratan, tetapi juga mencakup berbagai spesies yang hidup di kawasan perairan laut. Keberadaan satwa liar di wilayah maritim tersebut berkaitan erat dengan kondisi pulau-pulau kecil yang relatif rentan, yang sekaligus menjadi habitat alami bagi berbagai jenis satwa.
Pergeseran Pola Pikir dan Pendidikan Maritim
Budi menekankan bahwa pola pikir dalam melihat pembangunan sudah saatnya digeser dari yang berlandaskan target pendapatan per kapita, menjadi pemberdayaan bagi semua pihak dengan tetap mempertahankan kekayaan dan keanekaragaman alam. "Pola pikir dalam melihat pembangunan sudah saatnya digeser dari yang berlandaskan target pendapatan per kapita, menjadi pemberdayaan bagi semua pihak dengan tetap mempertahankan kekayaan dan keanekaragaman alam," tuturnya.
Menurutnya, budaya kemaritiman di Indonesia mengalami banyak kemunduran akibat pemusatan pendidikan di kawasan perkotaan. Padahal, laut memiliki peran penting sebagai sumber pangan, bagian dari mata rantai perekonomian, sekaligus menjadi masa depan bagi negara kepulauan seperti Indonesia. "Sebuah bangsa akan berhasil jika sistem pendidikannya maju. Mau itu levelnya keluarga, daerah, sampai negara. Bangsa yang maju, pasti bangsa yang menitikberatkan prioritasnya ke pendidikan, sehingga sains dan alam dapat beriringan," kata Budi.
Pendanaan Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir
Budi juga menekankan pentingnya dukungan pendanaan penelitian untuk menghasilkan data yang dapat dimanfaatkan dalam mengidentifikasi potensi kelautan di suatu wilayah. Ia menyoroti bahwa pemanfaatan sumber daya laut sering kali dilakukan oleh pihak eksternal, yang berpotensi mengancam ketersediaan sumber pangan masyarakat setempat.
Oleh karena itu, masyarakat pesisir perlu didorong untuk memperoleh akses terhadap pengetahuan dan data agar mampu mengidentifikasi serta memetakan potensi laut di wilayahnya secara mandiri. "Itulah yang akan menjadi salah satu solusi," tutup Budi. Dengan demikian, penguatan riset dan data kelautan diharapkan dapat mendukung pembangunan maritim Indonesia yang berkelanjutan dan inklusif.
