21 Tahun di Jepang, Ilmuwan Diaspora Sastia Pilih Tetap Gunakan Paspor Indonesia
Setelah menghabiskan lebih dari dua dekade di Jepang, ilmuwan diaspora Sastia telah membuat keputusan yang menginspirasi: tetap menggunakan paspor Indonesia. Pilihan ini mencerminkan komitmen mendalamnya terhadap tanah air, meskipun telah lama berkarier di negeri sakura.
Perjalanan Karier di Negeri Sakura
Sastia memulai perjalanannya di Jepang 21 tahun yang lalu, di mana ia mengembangkan keahlian dalam bidang sains dan teknologi. Selama bertahun-tahun, ia telah berkontribusi pada berbagai proyek penelitian yang diakui secara internasional. Namun, di balik kesuksesan profesionalnya, ia selalu menjaga hubungan emosional dengan Indonesia.
Komitmen terhadap identitas nasional menjadi faktor kunci dalam keputusannya. Meskipun tinggal di luar negeri, Sastia aktif terlibat dalam komunitas diaspora Indonesia di Jepang, sering berbagi pengetahuan dan mendukung rekan-rekan sesama ilmuwan dari tanah air.
Alasan di Balik Pilihan Paspor Indonesia
Dalam wawancara, Sastia menjelaskan bahwa keputusannya untuk tetap menggunakan paspor Indonesia didasarkan pada beberapa pertimbangan penting:
- Rasa cinta tanah air yang mendalam, yang tumbuh sejak masa kecil dan tetap kuat meski jauh dari Indonesia.
- Keinginan untuk memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan sains dan pendidikan di Indonesia, dengan tetap mempertahankan status kewarganegaraannya.
- Keyakinan bahwa identitas sebagai warga negara Indonesia adalah bagian integral dari dirinya, yang tidak ingin ia tinggalkan meski dengan peluang kewarganegaraan lain.
Ia menekankan bahwa keputusan ini bukan hanya tentang dokumen resmi, tetapi juga tentang menjaga hubungan dengan akar budaya dan sosialnya. Sastia percaya bahwa sebagai ilmuwan diaspora, ia dapat berperan sebagai jembatan antara Indonesia dan Jepang dalam pertukaran ilmu pengetahuan.
Dampak dan Inspirasi bagi Generasi Muda
Kisah Sastia telah menginspirasi banyak orang, terutama generasi muda Indonesia yang bercita-cita berkarier di luar negeri. Ia menunjukkan bahwa kesuksesan global tidak harus mengorbankan identitas nasional. Dengan tetap setia pada paspor Indonesia, ia membuktikan bahwa kontribusi bagi negara dapat dilakukan dari mana saja.
Para ahli menilai bahwa keputusan Sastia mencerminkan tren positif di kalangan diaspora Indonesia, di mana semakin banyak profesional memilih untuk tetap terhubung dengan tanah air. Hal ini dapat mendorong kolaborasi internasional yang lebih kuat dalam bidang penelitian dan inovasi.
Sebagai penutup, Sastia berharap kisahnya dapat memotivasi lainnya untuk bangga dengan identitas Indonesia, sambil terus mengejar impian di panggung dunia. Ia menegaskan bahwa paspor bukan sekadar dokumen perjalanan, tetapi simbol komitmen dan cinta terhadap bangsa.
