Iptu Jumadil Firdaus: Polisi Pengajar Pesantren yang Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026
Polisi Pengajar Pesantren Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026

Iptu Jumadil Firdaus: Polisi Pengajar Pesantren yang Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026

Iptu Jumadil Firdaus dikenal tidak hanya sebagai seorang polisi, tetapi juga sebagai pengajar yang telah mendedikasikan waktu untuk mendidik anak-anak di pesantren tradisional Banda Aceh. Ia memaknai pengabdiannya tersebut sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, yang mencerminkan integritas dan kesalehan dalam kehidupan sehari-hari.

Diusulkan dalam Hoegeng Awards 2026

Atas dedikasinya yang luar biasa, Iptu Jumadil diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Perwira yang kini menjabat sebagai Kasubbag Binkar SDM Polresta Banda Aceh itu dinilai sebagai polisi yang bersahaja dan dekat dengan masyarakat, menjadikannya teladan dalam pelayanan publik.

Kesaksian dari Mantan Santri

Salah satu yang mengusulkan Iptu Jumadil adalah Hasvi Harizi, yang mengenalnya sejak mondok di Pesantren Raudhatul Hikmah Al Waliyah. "Waktu itu beliau memang sangat aktif di pengajaran. Beliau termasuk guru saya," kata Hasvi, yang kini telah menjadi pengurus di pesantren tersebut. Ia menambahkan bahwa Iptu Jumadil dikenal dari dua sisi: spiritual dan kemasyarakat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dari sisi spiritual, Hasvi menyebut Iptu Jumadil sebagai sosok yang saleh dan selalu memberikan keteladanan kepada murid-muridnya. "Emang saya banyak lihat betul akhlaknya bagaimana, keteladanannya bagaimana di kelas itu memang ya nampak, ya saya saksinya dari sisi murid gitu," ujarnya. Dalam konteks bermasyarakat, Hasvi belajar dari Iptu Jumadil tentang cara berinteraksi dan menyelesaikan masalah dengan berbagai elemen warga.

Pengabdian dalam Kegiatan Keagamaan

Kesaksian lain datang dari Rudiansyah, pengurus masjid di sekitar tempat tinggal Iptu Jumadil. Ia mengatakan bahwa Iptu Jumadil sudah aktif dalam kegiatan keagamaan sejak sebelum menjadi polisi, termasuk sebagai ketua remaja masjid. "Beliau ini memang dulunya sebelum menjabat sebagai Polri, memang pernah menjabat sebagai ketua remaja masjid di masjid pemukiman. Kemudian aktif di berbagai kegiatan ormas kepemudaan," ujar Rudi.

Setelah menjadi anggota Polri, Iptu Jumadil tetap melanjutkan pengabdiannya dengan mengisi tausiyah dan menjadi imam di masjid-masjid. Rudi juga mengenalnya sebagai sosok yang mengayomi, di mana masalah di masyarakat lebih mudah diselesaikan dengan berbicara langsung dengannya. "Karena pembawaannya yang dibentuk seperti orang yang pemimpin yang bisa mengayomi. Jadi bukan hanya masyarakat biasa, anak-anak pun lebih mudah kalau duduk berbicara dengan beliau," tutur Rudi.

Cerita Pengabdian Iptu Jumadil

Iptu Jumadil sebelumnya juga merupakan kandidat Hoegeng Corner 2025. Dia bercerita bahwa ketertarikannya dalam mengajar sudah dimulai sejak SMA hingga kuliah, dengan mengajar anak-anak mengaji di TPQ. Setelah lulus kuliah, ia masuk menjadi anggota polisi pada 2005, tepat setelah bencana tsunami melanda Aceh.

Saat itu, dia aktif membantu sebagai pengasuh di asrama anak yatim yang dibangun oleh Kerajaan Johor Malaysia untuk korban tsunami. "Saya terus mengajar di sana, pengasuh anak-anak yatim 2005 sampai 2012," kata Iptu Jumadil. Pada 2012, ia mulai aktif membantu Pesantren Raudhatul Hikmah Al Waliyah, mengajar pada malam hari selepas pulang dinas.

Pesantren tersebut memiliki santri sekitar 250 orang, dengan sebagian tinggal di pesantren dan lainnya di rumah masing-masing. Iptu Jumadil mengajar materi sesuai kurikulum pesantren, seperti tajwid, tadarus Al-Quran, dan kitab Arab. "Jadi tergantung kurikulum dan jadwal dewan guru yang ditetapkan manajemen pesantren," imbuhnya.

Niat Ibadah dan Program Sosial

Alasan Iptu Jumadil konsisten mengajar di pesantren selama 12 tahun adalah karena dia meniatkannya sebagai ibadah. "Dan ini memang sudah takdir saya saya ditetapkan oleh Allah sebagai polisi dan memang pengabdian itu tujuan saya mengajar memang semata-mata berharap ibadah dan rido Allah SWT," ujarnya.

Selain itu, saat menjadi Kapolsek Banda Raya, Banda Aceh, Iptu Jumadil menggagas program 'Berkah Seuribee' atau sehari seribu. Program ini melibatkan anggota polisi untuk menyedekahkan infaq sehari seribu, yang terkumpul lebih dari satu juta rupiah per bulan untuk membantu fakir miskin dan anak yatim. "Kita bantu mereka karena sebagai wujud sebagai ibadah. Dalam islam banyak sedekah banyak rezeki," kata dia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga