Wakil Ketua MPR Soroti IPLM Nasional Rendah, Daya Saing Bangsa Terancam
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menyoroti rendahnya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia. Kondisi ini dinilai dapat menjadi ancaman serius bagi daya saing bangsa di masa depan, terutama dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat.
IPLM Indonesia Masuk Kategori Rendah
Berdasarkan data dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas), IPLM Nasional saat ini berada di angka 40,6. Angka ini diungkapkan dalam pemaparan resmi pada Kamis, 12 Maret 2026. Dalam skala penilaian 0-100, IPLM terbagi menjadi beberapa kategori: Sangat Rendah (0-29,9), Rendah (30-49,9), Sedang (50-79,9), Tinggi (80-89,9), dan Sangat Tinggi (90-100). Dengan capaian 40,6, IPLM Indonesia masih berada pada kategori rendah, menunjukkan bahwa upaya peningkatan literasi masyarakat masih perlu ditingkatkan secara signifikan.
Rerie menegaskan bahwa bangsa dengan aspek literasi rendah akan tertatih-tatih dalam bersaing di kancah global. "Ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan kemampuan kita untuk bersaing di era pengetahuan," ujarnya dalam keterangan resmi pada Minggu, 15 Maret 2026.
Unsur-Unsur yang Diukur dalam IPLM
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat digunakan oleh Perpusnas untuk menilai upaya pemerintah daerah dalam membina perpustakaan dan meningkatkan budaya literasi masyarakat. Sejumlah unsur yang diukur dalam IPLM antara lain:
- Sebaran layanan perpustakaan di berbagai wilayah.
- Koleksi buku dan bahan bacaan yang tersedia.
- Tenaga perpustakaan yang kompeten dan memadai.
- Jumlah kunjungan masyarakat ke perpustakaan.
- Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan literasi.
Indikator-indikator ini juga menjadi acuan penting dalam upaya menuju visi Indonesia Emas 2045, yang menekankan pembangunan sumber daya manusia yang unggul.
Pentingnya Sinergi dan Langkah Nyata
Rerie menilai bahwa program literasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pegiat literasi dengan langkah-langkah nyata yang terukur. "Kita perlu kolaborasi yang berkelanjutan, bukan kerja instan," tegasnya.
Sebagai anggota Komisi X DPR RI, Rerie mendorong agar layanan perpustakaan dapat menjangkau hingga ke desa-desa terpencil. Menurutnya, perpustakaan harus menjadi pusat kegiatan masyarakat yang hidup, bukan sekadar tempat menyimpan buku. "Perpustakaan harus menjadi ruang belajar dan berinteraksi bagi semua kalangan," tambahnya.
Integrasi Literasi dalam Pendidikan
Selain itu, Rerie menilai bahwa dinas pendidikan perlu mengintegrasikan literasi secara wajib dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler. Hal ini penting untuk membangun kebiasaan membaca dan berpikir kritis sejak dini. Ia juga menyoroti peran pemerintah daerah dalam mengawal berbagai langkah peningkatan literasi masyarakat.
"Saat ini adalah momentum untuk bergerak. Bangsa ini membutuhkan generasi yang cerdas dan berkarakter, dan itu dimulai dari literasi. Tidak ada kata instan, yang ada adalah komitmen bersama untuk kemajuan," pungkas Rerie, yang juga merupakan anggota Majelis Tinggi Partai NasDem.
Dengan IPLM yang masih rendah, upaya kolektif dari semua pihak diharapkan dapat meningkatkan indeks ini, sehingga daya saing bangsa Indonesia di tingkat global tidak terancam dan dapat bersaing dengan lebih baik di masa depan.
