Percetakan Braille Kemensos Hadirkan Buku, Majalah, dan Al-Qur'an Gratis untuk Tunanetra
Percetakan Literasi Braille Sentra Wyata Guna Bandung, yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial RI (Kemensos), memainkan peran krusial dalam memajukan literasi bagi penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia. Sebagai satu-satunya percetakan yang memproduksi buku braille secara gratis untuk seluruh Indonesia, lembaga ini telah menjadi tulang punggung dalam penyediaan akses informasi bagi komunitas tunanetra.
Produksi Rutin dan Wajib
Menurut Yunna Nursyalamah, Pengalih Huruf Braille di percetakan tersebut, beberapa literatur dicetak secara rutin dan dianggap wajib. "Yang komplit, yang gratis disini satu-satunya. Kalau yayasan-yayasan lain ada mungkin donatur khusus, berbayar mereka ke yayasan itu untuk disebarkan," jelasnya dalam keterangan tertulis pada Rabu, 18 Maret 2026.
Produk wajib yang selalu diproduksi meliputi:
- Al-Qur'an Braille
- Al-Kitab Braille
- Buku pengetahuan umum untuk sekolah, dari tingkat SD hingga universitas
- Buku keterampilan dan keagamaan
Yunna menegaskan bahwa keberadaan buku-buku ini sangat penting untuk mendukung pendidikan dan spiritualitas penyandang disabilitas.
Majalah Gema Braille dan Proses Produksi
Selain buku, percetakan ini juga menerbitkan majalah Gema Braille setiap dua bulan sekali. Majalah ini berisi karya tulis dari penyandang disabilitas sensorik netra atau kiriman dari penulis lain, yang disesuaikan dengan tema edisi tertentu. "Dapat hasil inti bacaannya itu dari para disabilitas netra ataupun dari teman-teman yang menyampaikan inspirasinya lewat tulisan. Lalu dikumpulkan ke kita, kemudian dirapatkan di Dewan Redaksi, lalu kita sortir mana yang cocok untuk tema di bulan ini," papar Yunna.
Setiap hari, percetakan mampu memproduksi sekitar 30 buku braille. Proses cetak Al-Qur'an Braille lebih panjang karena satu juz dicetak menjadi satu buku, sehingga satu set lengkap terdiri dari 30 jilid. Pada tahun 2026, target produksi Al-Qur'an Braille adalah 50 set, yang setara dengan 1.500 buku yang harus dicetak, diperiksa, dan dijilid dengan ketelitian tinggi.
Distribusi dan Layanan Tambahan
Semua produk cetak, termasuk buku, kitab, dan majalah, didistribusikan secara gratis kepada penerima manfaat, baik perorangan, Sekolah Luar Biasa (SLB), kampus, atau lembaga yang telah berlangganan di seluruh Indonesia. "Nah, kalau untuk teman-teman disabilitas di Indonesia yang telah berlangganan dikirim secara otomatis. Secara rutin, dua bulan sekali, majalah kita kirim, dan jika di bulan itu ada buku yang telah terbit, kita kirim secara otomatis," kata Yunna.
Percetakan juga menerima pemesanan khusus dari pihak eksternal seperti pemerintah daerah, swasta, atau individu. Layanan alih huruf buku ke braille secara gratis menjadi fokus utama, dengan prosedur yang dapat diakses melalui WhatsApp Center dan pengiriman surat permohonan.
Inovasi Audio Book dan Sejarah Panjang
Selain buku braille, Literasi Braille memproduksi audio book atau buku suara untuk tunanetra, bekerja sama dengan komunitas readers. "Uniknya di sini, yang mengalih suara itu, yaitu ada komunitas reader. Di dalamnya ada ibu-ibu yang bersedekah suara, bahkan tidak hanya mensedekahkan suara itu asal baca, bahkan mereka itu punya bakat," ungkap Yunna. Audio book ini disebarkan gratis melalui flashdisk, CD, atau kaset kepada individu dan SLB.
Sejarah percetakan ini bermula pada tahun 1952, ketika pendidikan tuna netra di Indonesia dimulai dengan pendirian Perpustakaan Braille. Lembaga ini telah mengalami berbagai perubahan nama dan lokasi, dari Lembaga Penerbitan dan Perpustakaan Braille Indonesia (LPPBI) hingga menjadi Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) 'Abiyoso' di bawah Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos. Pada 2022, BLBI berpindah kembali ke Jalan Pajajaran No 52, Kota Bandung, dan beroperasi sebagai Literasi Braille di bawah Sentra Wyata Guna Bandung.
Layanan literasi ini tidak hanya membuka akses informasi, tetapi juga meningkatkan kemampuan membaca dan menulis huruf braille serta mendorong kemandirian bagi penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia.
