Rektor IPB University, Prof. Arif Satria, menegaskan bahwa dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ada di kampus tidak berorientasi pada bisnis atau keuntungan. Hal ini disampaikan dalam diskusi dengan mahasiswa di kampus IPB, Bogor, pada Senin (10/5/2026).
Fokus pada Edukasi dan Pemberdayaan
Menurut Prof. Arif, dapur MBG didirikan dengan tujuan utama untuk memberikan edukasi gizi kepada mahasiswa sekaligus memberdayakan mereka dalam pengelolaan pangan. “Dapur ini bukan untuk cari untung, tapi untuk pembelajaran. Mahasiswa bisa belajar tentang gizi, pengolahan makanan, dan manajemen dapur secara langsung,” ujarnya.
Program MBG sendiri merupakan inisiatif IPB untuk menyediakan makanan bergizi gratis bagi mahasiswa yang membutuhkan. Dapur tersebut dikelola oleh tim yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan tenaga ahli gizi. Menu yang disajikan dirancang berdasarkan standar gizi seimbang dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.
Manfaat bagi Mahasiswa
Selain mendapatkan makanan bergizi, mahasiswa yang terlibat dalam pengelolaan dapur juga memperoleh pengalaman berharga. Mereka dilatih untuk merencanakan menu, menghitung kebutuhan gizi, hingga mengelola limbah dapur. “Ini adalah laboratorium hidup bagi mahasiswa, terutama dari Fakultas Teknologi Pertanian dan Fakultas Ekologi Manusia,” tambah Prof. Arif.
Untuk memastikan keberlanjutan program, IPB menggandeng berbagai pihak, termasuk petani lokal dan UMKM. Bahan baku makanan dibeli dari petani sekitar dengan harga wajar, sehingga turut mendukung perekonomian masyarakat.
Tidak Ada Target Komersial
Prof. Arif menegaskan bahwa dapur MBG tidak ditargetkan untuk menghasilkan keuntungan finansial. Seluruh anggaran operasional berasal dari dana institusi dan donasi. “Kalau ada sisa makanan, kami bagikan ke masyarakat sekitar. Tidak ada yang dijual,” jelasnya.
Ke depannya, IPB berencana memperluas program MBG ke lebih banyak mahasiswa dan bahkan membuka peluang bagi mahasiswa dari luar kampus untuk belajar pengelolaan dapur sehat. “Tujuan kami adalah menciptakan generasi yang sadar gizi dan mampu mandiri dalam pangan,” pungkas Prof. Arif.



