Viral Penolakan Makan Bergizi Gratis di PAUD Kubu Raya, Kalimantan Barat
Sebuah video yang menunjukkan penolakan pengiriman Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menjadi viral di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Dalam video tersebut, terlihat mobil dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) TNI AU datang terlambat ke sekolah, padahal kegiatan belajar mengajar telah usai dan murid-murid sudah pulang ke rumah.
Kronologi Kejadian dan Alasan Penolakan
Kejadian ini terjadi di PAUD Kuala Karya, yang berlokasi di Desa Kuala 2, Kecamatan Sungai Raya, pada pekan lalu. Menurut laporan, mobil pengantar MBG tiba di sekolah sekitar pukul 11.00 WIB, sementara murid-murid PAUD tersebut telah pulang lebih awal pada pukul 09.30 WIB. Pihak sekolah bersama dengan wali murid memutuskan untuk menolak distribusi MBG karena keterlambatan ini.
Penolakan tersebut bukan tanpa alasan. Mereka menilai bahwa keterlambatan dalam pengiriman MBG bukanlah kejadian yang pertama kali terjadi, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu jadwal kegiatan sekolah. Hal ini memicu respons cepat dari masyarakat yang menyebarkan video tersebut secara luas di platform media sosial.
Permohonan Maaf dan Janji Evaluasi dari SPPG
Merespons viralnya video tersebut, Kepala SPPG Lanud Supadio SPO 2, Fani Noviyanti, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Dalam pernyataan resminya yang diterima pada Jumat, 20 Februari 2026, Fani didampingi oleh pengawas keuangan Amel dan pengawas gizi Eca, mengucapkan permintaan maaf atas insiden ini.
"Pertama-tama, saya menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan distribusi yang terjadi dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh pihak sekolah dan wali murid," ujar Fani. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab operasional produksi dan distribusi MBG sepenuhnya berada di bawah kendali SPPG yang dipimpinnya, sehingga segala bentuk evaluasi dan perbaikan menjadi tanggung jawab resmi pihaknya.
Lebih lanjut, Fani menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pemilihan bahan, pengolahan, hingga sistem distribusi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan dan meningkatkan efektivitas program MBG dalam mendukung gizi anak-anak di daerah tersebut.
Insiden ini menyoroti pentingnya ketepatan waktu dalam distribusi bantuan pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan anak-anak. Dukungan dari masyarakat dan transparansi dari pihak berwenang diharapkan dapat mendorong perbaikan sistem yang lebih baik ke depannya.
