Dari Korban Bully hingga Juara Olimpiade: Kisah Inspiratif Siswa Sekolah Rakyat Bekasi
Akbar Farel (17), seorang siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, membagikan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan. Ia sempat mengalami putus sekolah di kelas 8 SMP akibat menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman-temannya. Trauma yang mendalam membuatnya takut untuk bersosialisasi dan akhirnya memutuskan berhenti dari pendidikan formal.
"Pada kelas 8 SMP, saya mengalami putus sekolah dikarenakan tindakan perundungan oleh teman saya yang membuat saya menjadi takut untuk bersosialisasi," ungkap Akbar kepada wartawan di SRMA 13 Bekasi, Selasa (14/4/2026). Meski sempat terpuruk, semangatnya tidak padam. Berbekal informasi dari media sosial, ia memutuskan mendaftar ke Sekolah Rakyat, sebuah lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak putus sekolah.
Kebangkitan dan Prestasi Gemilang
Di Sekolah Rakyat, Akbar perlahan merasakan perubahan positif. Dukungan dari guru-guru yang penuh perhatian membantunya bangkit dari keterpurukan. Ia kembali menemukan minatnya dalam matematika, yang sebelumnya sempat hilang akibat trauma bullying. "Pas saya kembali lagi ke sekolah formal, saya jadi berminat lagi dengan matematika karena ada dorongan dan motivasi dari guru. Beliau mengatakan bahwa saya memiliki potensi di bidang ini," tuturnya.
Ketekunan dan bimbingan tersebut membuahkan hasil yang luar biasa. Akbar berhasil meraih medali perunggu dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Matematika tingkat nasional. "Saya berprestasi dalam ajang OSN Matematika yang diselenggarakan oleh Olimpiade Sains Nasional, dan saya mendapatkan medali perunggu tingkat nasional di bidang matematika," ujarnya dengan bangga. Prestasi ini tidak hanya menjadi bukti kemampuan akademisnya, tetapi juga simbol ketangguhan menghadapi masa sulit.
Impian Masa Depan yang Cerah
Dengan pencapaian ini, Akbar kini memiliki visi yang jelas untuk masa depannya. Ia berharap dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi luar negeri, khususnya di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Boston. "Rencana ke depannya saya akan lanjut kuliah. Saya punya impian untuk kuliah di luar negeri, tepatnya di MIT Boston, dan mengambil jurusan Data Science," imbuhnya. Impian ini menunjukkan bagaimana pendidikan dapat mengubah hidup seseorang, dari korban bullying menjadi calon ilmuwan data yang berpotensi.
Kisah Inspiratif Lainnya dari Sekolah Rakyat
Selain Akbar, ada kisah-kisah inspiratif lain dari siswa Sekolah Rakyat yang patut diapresiasi. Daifulloh Afif (19), misalnya, baru kembali menduduki bangku kelas 10 SMA setelah bertahun-tahun bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya yang terdampak pandemi. "Dulu sempat sekolah SMA tapi tidak sampai lulus, hanya 7 bulan karena kendala biaya," ungkap Daifulloh. Ia tidak menyerah dan mencoba berbagai pekerjaan, dari jualan tahu bulat, bekerja di bengkel mobil, hingga menjadi kurir Shopee dan J&T, sebelum akhirnya bisa kembali bersekolah.
Sementara itu, Sayyda Nur Halimah (17) menceritakan perjuangannya sejak usia 10 tahun bekerja sebagai pelayan warung kopi hingga dini hari demi membantu ibunya yang berjualan kopi keliling. Meski tinggal di area bantaran kali dengan kondisi rumah yang memprihatinkan, semangat belajarnya tidak pernah padam. Ibunya selalu memberikan motivasi, "Ibu boleh putus sekolah, tapi anak-anak Ibu jangan sampai putus sekolah." Sayyda bersyukur bisa bersekolah gratis di Sekolah Rakyat dan berhasil masuk peringkat 5 besar di kelasnya berkat bimbingan guru-guru yang baik.
Kisah-kisah ini menggarisbawahi pentingnya sistem pendidikan inklusif seperti Sekolah Rakyat dalam memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak yang mengalami putus sekolah. Mereka membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, hambatan seperti bullying, kemiskinan, atau trauma dapat diatasi untuk meraih prestasi dan menggapai impian.



