Inovasi Limbah Jadi Nutrisi: Kompetisi Sains Jakarta Lahirkan Solusi Kelaparan
Inovasi Limbah Jadi Nutrisi di Kompetisi Sains Jakarta

Inovasi Limbah Jadi Nutrisi: Kompetisi Sains Jakarta Lahirkan Solusi Kelaparan

Jakarta - BPK Penabur Jakarta memperkuat pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics (STEAM) untuk mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 melalui ajang PENABUR STEAM Innovation Competition 2026. Kompetisi ini diikuti oleh siswa tingkat SMP dan bertujuan mengembangkan solusi nyata terhadap persoalan global, terutama ketahanan pangan yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

Ruang Apresiasi dan Kolaborasi untuk Siswa

Kepala Seksi Pendidikan Menengah Bagian Kurikulum dan Evaluasi BPK Penabur Jakarta, Hendra Tan, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi ruang apresiasi, kolaborasi, dan inspirasi bagi peserta. "Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi, kolaborasi dan inspirasi bagi siswa yang berpartisipasi untuk menampilkan solusi inovatif terhadap permasalahan nyata di masyarakat," ujarnya seperti dilansir Antara.

Pendekatan STEAM telah diterapkan di 17 SMPK Penabur Jakarta sebagai strategi membentuk karakter, kreativitas, dan kemampuan problem solving siswa. Kompetisi dengan tema "Driven Hunger Solutions: The Power to Change is Ours" diikuti oleh 136 siswa dari 17 sekolah jenjang SMP. Para peserta ditantang merancang prototipe solusi terkait tujuan "Zero Hunger" atau tanpa kelaparan.

Proses Kompetisi yang Ketat

Rangkaian kegiatan dimulai dari tahap riset dan perancangan prototipe, dilanjutkan dengan pameran karya dalam bentuk booth, hingga presentasi enam tim terbaik di hadapan dewan juri. Dewan juri terdiri atas perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi, dan tim kurikulum, memastikan penilaian yang komprehensif dan mendalam.

Kaleg Emulsion: Juara Pertama dengan Inovasi Limbah

Juara pertama diraih oleh tim "Kaleg" dari SMP Tirtamarta BPK Penabur Cinere melalui proyek "Kaleg Emulsion". Proyek ini melibatkan pembuatan emulsi berbahan minyak ikan dari ikan invasif yang diperkaya dengan limbah nabati seperti wortel dan minyak biji labu. "Kami menggunakan minyak ikan dari ikan invasif dan mengubahnya menjadi emulsi serta diperkaya limbah nabati yang kaya beta-karoten, vitamin E, dan vitamin K," kata Tito, anggota tim Kaleg.

Erik, rekan satu tim, menekankan bahwa solusi ketahanan pangan tidak hanya tentang ketersediaan makanan, tetapi juga kecukupan nutrisi. "Hunger solutions bukan hanya soal ada makanan, tetapi juga adanya nutrisi yang tercukupi," ujarnya, menyoroti pentingnya aspek gizi dalam upaya mengatasi kelaparan.

Apresiasi dari Peneliti BRIN

Peneliti dari BRIN, Christina Winarti, memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas inovasi siswa. "Produk yang dipamerkan sudah sangat bagus, bahkan ada beberapa yang belum kami teliti. Saya sangat mengapresiasi bagaimana siswa memanfaatkan limbah dan diolah, semakin menambah nilai ekonomis," tutur Christina. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi siswa tidak hanya relevan secara ilmiah, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang signifikan.

Kompetisi ini tidak hanya sekadar ajang lomba, tetapi juga wujud nyata komitmen pendidikan dalam menjawab tantangan global. Dengan memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai, siswa-siswa ini membuktikan bahwa generasi muda Indonesia siap berkontribusi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan dan sejahtera.