KOMPAS.com - Banyak orangtua kerap merasa bingung ketika menyekolahkan anak-anak. Misalnya seperti saat ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperbolehkan anak berusia 5,5 tahun masuk SD. Meski ada syarat yang harus dipenuhi.
Sementara orangtua juga dihadapkan rasa bimbang. Apakah anak-anak usia tersebut memang bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Kalau masih bingung, Pakar Pengasuhan dan Perkembangan Anak Institut Pertanian Bogor (IPB University) Dwi Hastuti menilai bahwa usia bukanlah satu-satunya faktor yang perlu dipertimbangkan.
Kesiapan Anak Lebih Penting dari Usia
Menurut Dwi Hastuti, kesiapan anak untuk masuk sekolah dasar tidak semata-mata ditentukan oleh angka usia. Ada banyak aspek lain yang harus diperhatikan orangtua, seperti kematangan emosi, kemampuan sosial, dan kemandirian dasar.
Anak usia 5,5 tahun mungkin secara kognitif sudah siap, tetapi jika belum mampu berinteraksi dengan teman sebaya atau mengelola emosi, hal itu bisa menjadi hambatan dalam proses belajar. Oleh karena itu, orangtua perlu melakukan observasi terhadap perkembangan anak secara menyeluruh.
Tips Menentukan Kesiapan Anak Masuk SD
- Kematangan Emosional: Apakah anak mampu mengendalikan emosi saat menghadapi situasi baru atau frustrasi?
- Keterampilan Sosial: Seberapa baik anak berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain?
- Kemandirian: Mampukah anak melakukan aktivitas sederhana seperti makan sendiri, memakai baju, atau merapikan mainan?
- Kemampuan Kognitif: Apakah anak sudah mengenal huruf, angka, dan memiliki daya konsentrasi yang cukup?
Dwi Hastuti juga menyarankan orangtua untuk berkonsultasi dengan guru PAUD atau psikolog anak jika masih ragu. Dengan demikian, keputusan menyekolahkan anak dapat diambil berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan semata-mata karena batas usia yang longgar.
Kebijakan Kemendikdasmen yang membolehkan anak 5,5 tahun masuk SD memang memberikan fleksibilitas, tetapi tetap harus diimbangi dengan kesiapan individu anak. Orangtua diharapkan tidak terburu-buru dan selalu mengutamakan kepentingan terbaik bagi perkembangan buah hati.



