Wakil Ketua MPR Soroti Peran Strategis Guru Perempuan dalam Pembentukan Karakter Bangsa
Wakil Ketua MPR Soroti Peran Strategis Guru Perempuan

Wakil Ketua MPR Soroti Peran Strategis Guru Perempuan dalam Pembentukan Karakter Bangsa

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa guru perempuan memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam menentukan arah pembangunan bangsa Indonesia ke depan. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks pembentukan karakter generasi penerus yang tangguh dan berdaya saing.

Pernyataan Resmi dalam Seminar Nasional

Dalam keterangan resminya pada Jumat (17/4/2026), Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, menyatakan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, tetapi lebih dari itu, dari kemampuan membangun sumber daya manusianya. "Indonesia bisa menjadi bangsa yang kuat bukan semata dilihat dari pembangunan fisik, lebih dari itu harus mampu membangun manusianya. Peran guru perempuan sangat penting dalam membentuk generasi penerus berdaya saing dan berkarakter kuat," ujarnya dengan penuh keyakinan.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Rerie bertindak sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Perempuan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang mengangkat tema inspiratif 'Perempuan dalam Memajukan Pendidikan di Indonesia'. Acara ini diselenggarakan di Hotel Golden Boutique Kemayoran, Jakarta, pada Kamis (16/4/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sifat Alami Perempuan sebagai Fondasi Pendidikan Karakter

Rerie lebih lanjut menjelaskan bahwa perempuan secara alami memiliki sifat belas kasih atau compassion yang menjadi elemen krusial dalam proses pembentukan karakter anak bangsa. Oleh karena itu, kehadiran aktif dan kontribusi nyata guru perempuan di lingkungan pendidikan dinilai sangat dibutuhkan, khususnya dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik yang holistik.

"Peran para guru, terutama guru perempuan, saat ini sejatinya tidak sekadar mendidik, tetapi membentuk arah bangsa di masa depan," tegas Rerie menutup paparannya dalam seminar tersebut.

Tantangan Kesehatan Mental dan Disrupsi Sosial

Di sisi lain, Rerie mengungkapkan keprihatinannya terhadap tantangan berat yang dihadapi anak dan remaja Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyoroti data awal tahun 2026 dari Kementerian Kesehatan RI yang mengungkap fakta mengkhawatirkan:

  • Sekitar 5% anak dan remaja di Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa.
  • Lebih dari 300.000 pelajar terdeteksi mengalami kondisi depresi.

Menurut analisis Rerie, disrupsi di berbagai sektor kehidupan serta perubahan nilai-nilai dalam keseharian masyarakat menuntut langkah antisipatif yang serius. Salah satunya adalah melalui penguatan mental dan karakter setiap anak bangsa. Dalam konteks inilah, peran guru perempuan dinilai menjadi sangat krusial dan tak tergantikan.

"Peran guru perempuan menjadi urat nadi dan jantung dalam proses pembentukan karakter generasi penerus yang akan menentukan masa depan Indonesia," papar Rerie dengan penekanan khusus.

Partisipasi Luas dalam Seminar

Seminar nasional ini tidak hanya dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI, tetapi juga diikuti secara aktif oleh:

  1. Biro Pemberdayaan Perempuan PGRI.
  2. Pengurus Perempuan PGRI tingkat Pengurus Besar.
  3. Perwakilan dari provinsi dan daerah istimewa seluruh Indonesia.
  4. Perwakilan dari kabupaten dan kota di seluruh tanah air.

Kehadiran mereka menandakan komitmen kolektif untuk memperkuat peran perempuan, khususnya guru, dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia yang lebih berkualitas dan berkarakter.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga