Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) menyoroti persoalan yang dihadapi oleh guru honorer yang masih berlangsung hingga saat ini. Permasalahan tersebut meliputi ketidakpastian status, kesejahteraan yang rendah, perlindungan kerja yang minim, serta terbatasnya kesempatan pengembangan profesi.
Pentingnya Peran Guru Honorer
Ketua Umum Formas, Yohanes Handoyo Budhisejati, menegaskan bahwa guru honorer memegang peranan penting dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Mereka sering mengajar di daerah terpencil yang sulit dijangkau. "Oleh karena itu, Formas memandang perlu adanya ruang dialog yang konstruktif untuk menghimpun berbagai masukan dan rekomendasi demi terciptanya kebijakan yang lebih berpihak pada masa depan pendidikan bangsa," kata Handoyo dalam sambutannya di acara Focus Group Discussion (FGD) Nasib Guru Honorer di Auditorium RRI, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Permasalahan Ekonomi dan Kompetensi
Handoyo menilai permasalahan yang dihadapi guru honorer sangat memprihatinkan. Ia menyoroti bahwa generasi muda dengan pengetahuan mumpuni belum cukup untuk memajukan pendidikan Indonesia jika para pengajar masih hidup serba kekurangan. Selain masalah ekonomi, guru honorer juga bergelut dengan kesulitan melanjutkan pendidikan dan meningkatkan kompetensi. "Kalau pengajarnya saja tidak kita perhatikan, pendidik-pendidik kita tidak kita perhatikan, bayangkan saja kalau sebagai pendidik dia masih harus mencari nafkah, kapan dia bisa memperdalam ilmu pengetahuan yang bisa ditularkan kepada anak didiknya?" jelasnya.
Apresiasi dan Harapan kepada Pemerintah
Handoyo mengapresiasi kebijakan Presiden Prabowo dalam memperhatikan banyak sektor. Namun, ia berharap presiden tidak melupakan sektor pendidikan, khususnya kesejahteraan guru honorer. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga proaktif dari akar rumput untuk saling peduli. "Jadi pada saat ini kita berpikir, kita jangan selalu menyalahkan pemerintah berbuat apa, tapi kita coba melihat masyarakat bisa berbuat apa juga untuk saling memperhatikan sesama masyarakat," jelasnya. "Ini hal-hal yang kita mau ketengahkan, ini hal-hal yang kita mau coba pancing, ya kalau bahasa Indonesianya 'pancing' apa kepedulian sesama masyarakat dan apa kepedulian pemerintah terhadap itu. Sesimpel itu," sambungnya.
Kolaborasi sebagai Solusi
Menurutnya, gerakan peduli terhadap guru honorer tidak bisa hanya mengandalkan pemangku kebijakan, melainkan harus ada kolaborasi. Dengan begitu, guru honorer dapat fokus memajukan pendidikan tanpa khawatir masalah ekonomi. Handoyo berharap diskusi yang digelar Formas dapat menghasilkan langkah konkret yang diimplementasikan demi kesejahteraan guru honorer. "Yang kedua, kami mencoba menggelitik masyarakat, elemen-elemen masyarakat lain yang lebih beruntung pada hari ini, untuk bagaimana bersama-sama memperhatikan mengenai guru honorer ini," ucapnya.
Gerakan Gotong Royong
Bentuk kepedulian masyarakat dapat dilakukan secara gotong royong, misalnya dengan membuat gerakan peduli guru honorer yang mengumpulkan bantuan uang atau bahan makanan pokok. Hasilnya diserahkan kepada guru honorer untuk meringankan beban ekonomi. "Tapi kalau ini guru honorer, mungkin dengan gerakan lima ribuan. Kalau itu bergulir, kita punya tadi datanya 237.000 orang, mungkin nggak kita bisa memberikan kelebihan-kelebihan atau hasil-hasil yang terkumpul itu untuk menambah apa yang mereka sudah dapatkan," kata Handoyo. Baginya, gerakan akar rumput peduli guru honorer harus betul-betul dijalankan selain kebijakan pemerintah. Rasa kepedulian sesama warga negara seharusnya muncul dari masyarakat. "Nah itulah, gerakan-gerakan masyarakat ini kita coba untuk kita galakkan lewat FGD-FGD seperti ini," tutupnya.



