Kisah Yustina, Guru Honorer yang Jalan Kaki 6 Km ke Sekolah, Kini Dapat Bantuan
Kisah Yustina, Guru Honorer Jalan Kaki 6 Km Kini Dapat Bantuan

Kisah Yustina, seorang guru honorer di Nusa Tenggara Timur, berhasil menyita perhatian publik. Demi menunaikan kewajibannya mengajar, ia harus berjalan kaki sejauh 6 kilometer setiap hari menuju sekolah tempatnya mengajar. Perjuangannya ini pun viral di media sosial dan menggerakkan banyak pihak untuk memberikan bantuan.

Perjuangan Yustina Menuju Sekolah

Yustina mengajar di SD Negeri yang terletak di daerah terpencil. Setiap pagi, ia harus meninggalkan rumah sekitar pukul 05.30 WITA agar tiba di sekolah tepat waktu. Jalan yang dilaluinya tidak hanya jauh, tetapi juga menanjak dan berbatu. “Saya kadang merasa lelah, tapi semangat anak-anak didik saya yang membuat saya bertahan,” ujar Yustina saat diwawancarai.

Kondisi ini sudah dijalaninya selama dua tahun. Gaji sebagai guru honorer yang minim membuatnya tidak mampu membeli kendaraan. Ia hanya mengandalkan sepatu yang sudah usang untuk menempuh perjalanan. Meskipun berat, Yustina mengaku tidak pernah berpikir untuk menyerah. Baginya, pendidikan adalah kunci untuk mengubah masa depan anak-anak di desanya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Viral dan Mendapat Perhatian

Kisah Yustina pertama kali dibagikan oleh salah seorang warga yang kebetulan melihatnya berjalan kaki setiap hari. Unggahan tersebut langsung viral dan menuai simpati dari warganet. Banyak yang terharu dengan dedikasinya dan mulai mencari informasi lebih lanjut tentang Yustina.

Tak lama kemudian, berbagai pihak mulai bergerak memberikan bantuan. Pemerintah daerah setempat turun tangan dengan memberikan bantuan berupa sepeda motor. Selain itu, sejumlah donatur dari berbagai daerah juga memberikan bantuan berupa uang tunai dan perlengkapan sekolah untuk murid-muridnya.

Bantuan yang Mengubah Hidup

Dengan adanya bantuan sepeda motor, perjalanan Yustina ke sekolah kini menjadi lebih mudah. Waktu tempuhnya berkurang drastis, dan ia bisa lebih fokus pada kegiatan belajar mengajar. “Saya sangat bersyukur. Ini benar-benar mengubah hidup saya. Saya tidak perlu lagi berjalan kaki berjam-jam,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Selain itu, bantuan uang tunai yang diterimanya digunakan untuk memperbaiki rumahnya yang sudah reyot. Yustina juga berencana menyisihkan sebagian untuk membeli buku dan alat tulis bagi murid-muridnya yang kurang mampu. Baginya, kebahagiaan terbesar adalah melihat murid-muridnya bisa belajar dengan layak.

Harapan untuk Masa Depan

Yustina berharap kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi guru honorer lainnya untuk tetap semangat mengabdi. Ia juga berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib para guru honorer di daerah terpencil. “Banyak guru seperti saya yang berjuang keras. Semoga ke depannya ada perbaikan kesejahteraan,” pungkasnya.

Kisah Yustina menjadi bukti bahwa dedikasi seorang guru tidak terbatas oleh jarak dan keterbatasan. Dengan bantuan yang datang, kini ia bisa mengajar dengan lebih tenang dan berharap dapat mencetak generasi penerus yang lebih baik di daerahnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga