LPDP Tegaskan Tidak Pernah Tetapkan Syarat TOEFL 700-800
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memberikan respons resmi terkait pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang menyinggung syarat TOEFL pendaftaran beasiswa di angka 700 hingga 800. Dalam klarifikasinya, LPDP menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menetapkan persyaratan TOEFL pada kisaran angka tersebut.
Klaim Bahlil dan Bantahan Resmi LPDP
Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan bahwa syarat TOEFL 700-800 hanya bisa dicapai oleh orang kaya saja, saat berkunjung ke Pondok Pesantren Az-Zainiyyah di Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu (8/3/2026). Menanggapi hal ini, Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP M. Lukmanul Hakim memberikan penjelasan tegas.
"LPDP tidak pernah menetapkan persyaratan TOEFL pada kisaran 700-800. Rentang tersebut tidak sesuai dengan standar tes resmi, mengingat skor maksimum TOEFL ITP adalah 677 sehingga secara teknis tidak dapat dijadikan acuan persyaratan," kata Lukmanul Hakim saat dikonfirmasi pada Rabu (11/3/2026).
Dasar Penetapan Syarat Bahasa Inggris LPDP
Lukmanul menjelaskan bahwa kemampuan bahasa Inggris dalam seleksi beasiswa LPDP berpedoman pada kebutuhan akademik perguruan tinggi yang dituju oleh calon penerima beasiswa. Persyaratan ini dirancang untuk memastikan kesiapan akademik peserta, bukan untuk membatasi akses pendaftar.
"Persyaratan kemampuan bahasa Inggris yang berlaku saat ini disusun berdasarkan kebutuhan akademik perguruan tinggi tujuan dan bertujuan memastikan kesiapan calon penerima beasiswa dalam menjalani studi, bukan untuk membatasi akses pendaftar," tegas Lukmanul.
Pengecualian untuk Jalur Afirmasi
LPDP juga menekankan komitmennya terhadap perluasan akses pendidikan yang inklusif. Untuk peserta jalur afirmasi yang mendaftar pada universitas dalam negeri, LPDP memberikan pengecualian persyaratan bahasa Inggris.
"Selain itu, untuk peserta jalur afirmasi yang mendaftar pada universitas dalam negeri, LPDP memberikan pengecualian persyaratan bahasa Inggris agar kesempatan memperoleh beasiswa tetap terbuka secara luas dan inklusif," sambung Lukmanul.
Komitmen LPDP terhadap Keadilan Pendidikan
Lembaga ini menyatakan komitmen kuatnya untuk terus memperluas akses pendidikan tinggi yang berkeadilan bagi seluruh anak bangsa. LPDP secara khusus menyasar mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu, daerah afirmasi, maupun penyandang disabilitas.
"LPDP berkomitmen untuk terus memperluas akses pendidikan tinggi yang berkeadilan bagi seluruh anak bangsa, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu, daerah afirmasi, maupun penyandang disabilitas," jelas Lukmanul.
Evaluasi Berkala Tanpa Kurangi Standar
LPDP juga memastikan bahwa evaluasi kebijakan dilakukan secara berkala untuk menjaga inklusivitas tanpa mengurangi standar kualitas akademik yang diperlukan untuk keberhasilan studi.
"Evaluasi kebijakan juga dilakukan secara berkala untuk memastikan inklusivitas tanpa mengurangi standar kualitas akademik yang diperlukan demi keberhasilan studi," tambahnya.
Latar Belakang Pernyataan Bahlil
Sebelumnya, Bahlil Lahadalia menyampaikan pandangannya tentang kualitas individu yang menurutnya tidak ditentukan oleh latar belakang pendidikan formal. Dalam kunjungannya ke pesantren, Bahlil menekankan bahwa kualitas seseorang berasal dari diri pribadi masing-masing.
"Saya termasuk salah satu yang menganut mazhab sekolah tidak menjamin kualitas seseorang. Yang menjamin kualitas seseorang itu adalah orang itu sendiri," ucap Bahlil.
Ia kemudian menyinggung persyaratan bahasa Inggris yang menurutnya diskriminatif: "(Pesantren) pasti punya kualitas yang jauh lebih baik. Cuma sentuhannya yang harus dilakukan. Kesempatannya yang harus diberlakukan. Jangan disuruh syaratnya itu harus bahasa Inggris TOEFL 700, 800, ya itu mah orang-orang kaya aja."
Dengan klarifikasi ini, LPDP berharap dapat meluruskan informasi yang beredar di masyarakat sekaligus menegaskan komitmennya terhadap pemerataan akses pendidikan tinggi berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
