Warga Jaksel Keluhkan Kebisingan Lapangan Padel yang Melebihi Batas 55 dB
Kebisingan Padel di Jaksel Melebihi Batas 55 dB

Warga Haji Nawi Jaksel Keluhkan Kebisingan dari Lapangan Padel

Warga di kawasan Haji Nawi, Cilandak, Jakarta Selatan, mengeluhkan kebisingan yang berasal dari sebuah lapangan padel. Keluhan ini muncul seiring dengan temuan riset yang menunjukkan bahwa aktivitas olahraga padel tergolong lebih bising dibandingkan dengan olahraga tenis.

Riset Ungkap Perbandingan Kebisingan Padel dan Tenis

Sebuah makalah riset berjudul 'A Summary of the Research Paper: A Noise Assessment of Padel' yang ditulis oleh Martin Higgins dan tayang dalam jurnal MW Acoustic Consultants mengungkap perbedaan signifikan dalam tingkat kebisingan antara kedua olahraga tersebut. Riset ini dirancang untuk mengukur kebisingan aktivitas padel dengan tenis sebagai pembanding.

Studi dilakukan pada lapangan padel berukuran 10x20 meter yang biasanya semi tertutup dengan pembatas kaca di ujung dan pagar kawat di sisi, sementara lapangan tenis lebih besar (28x11 meter) dan umumnya tidak tertutup. Padel menggunakan raket dengan konstruksi padat dari plastik atau resin serta bola dengan tekanan internal lebih rendah, yang mendorong reli lebih panjang dan suara benturan lebih intens.

Data Kebisingan yang Mengkhawatirkan

Martin Higgins menulis, "Ketika diukur 5 meter dari sisi lapangan (di garis net), permainan padel pada umumnya menghasilkan rata-rata LAeq (tingkat kebisingan rata-rata) dan LAMax (tingkat kebisingan tertinggi), 6 desibel (dB) lebih tinggi daripada tenis, ini akan setara dengan peningkatan yang signifikan." Namun, pengukuran 5 meter dari ujung lapangan menunjukkan tingkat kebisingan yang hampir identik antara padel dan tenis.

Penelitian juga menemukan bahwa tingkat kebisingan di sisi lapangan sekitar 12 dB lebih tinggi daripada di ujung kaca tertutup, setara dengan lebih dari dua kali lipat kebisingan yang dirasakan. Karakter suara padel lebih impulsif, dengan pukulan raket setiap 4 detik dibanding tenis setiap 6 detik, menghasilkan suara 'retak' berfrekuensi tinggi.

"Selama periode permainan 5 menit di tingkat klub, padel menghasilkan rata-rata 88 suara benturan yang berbeda, sementara tenis hanya menghasilkan 50," tulis Higgins. Data dari Federasi Tenis Prancis (FFT) dan riset akustik independen di Eropa mengonfirmasi angka rata-rata 89-91 dB(A) dengan titik puncak hingga 102 dB(A).

Aturan Kebisingan dan Batas Maksimal

Masalah kebisingan ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 48 Tahun 1996, yang menetapkan batas maksimal kebisingan untuk mencegah gangguan. Untuk kawasan permukiman, batas maksimal adalah 55 dBA, setara dengan suasana kantor tenang atau mesin cuci biasa.

Kebisingan di lapangan padel yang melebihi angka tersebut menjadi perhatian serius. Riset memberikan saran agar desain lapangan padel diperhatikan untuk mengurangi dampak pada tetangga yang sensitif terhadap kebisingan.

Tanggapan Gubernur DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah membuka suara mengenai keluhan warga. Ia mengatakan akan memanggil para pengelola dan stakeholder terkait dalam waktu dekat untuk membahas persoalan ini, termasuk memastikan perizinan dan operasional usaha padel sesuai aturan.

"Minggu depan saya akan mengundang seluruh stakeholder yang khusus berkaitan dengan izin padel ini. Saya minta dipresentasikan," kata Pramono di Balai Kota Jakarta. Ia menegaskan, jika ditemukan pelanggaran atau operasional yang tidak sesuai izin dan meresahkan masyarakat, Pemprov DKI tidak akan segan mengambil tindakan tegas.

Keluhan warga dan temuan riset ini menyoroti pentingnya penyesuaian desain dan operasional lapangan padel untuk mematuhi aturan kebisingan dan menjaga kenyamanan lingkungan sekitar.