Nama Ferran Torres kembali menjadi sorotan setelah ia berhasil mencetak gol yang mengantarkan Spanyol meraih gelar juara Piala Dunia FIFA 2026. Penyerang berusia 26 tahun itu dikenal tidak hanya karena penampilannya di lapangan, tetapi juga karena kebiasaan pola makannya yang unik.
Puasa Intermiten ala Ferran Torres
Dilansir dari NDTV pada Rabu (22/7/2026), Torres diketahui menerapkan intermittent fasting atau puasa intermiten selama sebagian besar musim kompetisi. Kebiasaan ini bahkan disebut turut mempengaruhi rekan setimnya di timnas Spanyol, Pedri. Puasa intermiten adalah pola makan yang membatasi waktu konsumsi makanan dalam jendela waktu tertentu, misalnya 16 jam puasa dan 8 jam makan.
Torres telah menjalani gaya hidup ini selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, puasa intermiten membantu menjaga kebugaran dan fokus selama pertandingan. "Saya merasa lebih ringan dan lebih fokus saat bermain setelah berpuasa," ujar Torres dalam sebuah wawancara.
Pengaruh pada Rekan Setim
Kebiasaan Torres rupanya menular ke Pedri, gelandang muda Spanyol yang juga bermain di Barcelona. Pedri mulai mengikuti pola puasa intermiten setelah melihat hasil positif yang dirasakan Torres. "Ferran memberi saya saran tentang puasa intermiten. Saya mencobanya dan merasakan perbedaan besar dalam energi saya," kata Pedri.
Pedri mengaku bahwa sejak menjalani puasa intermiten, ia merasa lebih bugar dan mampu bermain dengan intensitas lebih tinggi sepanjang pertandingan. "Ini membantu saya pulih lebih cepat setelah latihan dan pertandingan," tambahnya.
Dampak pada Performa Timnas Spanyol
Keberhasilan Spanyol di Piala Dunia 2026 tidak lepas dari kontribusi Torres dan Pedri. Torres mencetak gol penentu di final, sementara Pedri menjadi motor serangan di lini tengah. Pelatih Luis de la Fuente memuji kedisiplinan para pemainnya dalam menjaga pola makan. "Mereka adalah contoh profesionalisme. Puasa intermiten adalah bagian dari gaya hidup mereka yang membantu tim mencapai hasil maksimal," ujar De la Fuente.
Puasa intermiten sendiri telah menjadi tren di kalangan atlet profesional. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan ini dapat meningkatkan metabolisme, mengurangi peradangan, dan meningkatkan fungsi otak. Namun, para ahli mengingatkan bahwa puasa intermiten tidak cocok untuk semua orang dan sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan ahli gizi.
Kesimpulan
Ferran Torres tidak hanya menjadi pahlawan di lapangan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi rekan setimnya dalam hal gaya hidup sehat. Kebiasaan puasa intermiten yang ia terapkan turut berkontribusi pada kesuksesan Spanyol di Piala Dunia 2026.



