FBI Selidiki Mantan Bos Kontraterorisme AS yang Mundur Protes Perang Iran
FBI Selidiki Mantan Bos Kontraterorisme Mundur Protes Perang Iran

FBI Selidiki Mantan Pejabat Kontraterorisme AS yang Mundur Protes Perang Iran

Jakarta - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat, yang dikenal sebagai FBI, secara resmi telah membuka penyelidikan mendalam terhadap seorang pejabat senior kontraterorisme yang baru saja mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri tersebut dilakukan sebagai bentuk protes keras terhadap kebijakan perang AS di Iran, yang sedang berlangsung.

Menurut laporan dari berbagai media terkemuka di Amerika Serikat, termasuk New York Times dan CBS, penyelidikan ini diduga terkait dengan kemungkinan kebocoran informasi rahasia negara. Sumber-sumber anonim yang dekat dengan kasus ini mengungkapkan bahwa penyelidikan FBI terhadap Joseph Kent telah berjalan selama beberapa bulan, bahkan sebelum ia secara resmi menyatakan pengunduran dirinya.

Pengunduran Diri yang Menggemparkan

Joseph Kent, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC), mengajukan surat pengunduran dirinya pada Selasa, 17 Maret 2026. Dalam surat yang ditujukan langsung kepada Presiden Donald Trump, Kent dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak dapat lagi "dengan hati nurani yang baik mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kent, seorang mantan anggota pasukan khusus berusia 45 tahun, mengkritik kebijakan pemerintah AS dengan menyatakan bahwa Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Ia menuduh bahwa keputusan untuk memulai perang lebih didasarkan pada tekanan dari Israel dan pengaruh kuat lobi-lobi Amerika, bukan pada pertimbangan strategis yang objektif.

Reaksi dari Gedung Putih dan Investigasi FBI

Menanggapi pengunduran diri Kent, Presiden Donald Trump langsung melontarkan kritik pedas. Ia menuduh mantan sekutunya itu "sangat lemah dalam hal keamanan" dan menyebut bahwa "situasi yang baik bahwa dia keluar." Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dengan keras membantah klaim yang diajukan Kent dalam surat pengunduran dirinya.

Leavitt menyebut anggapan bahwa perang Iran diputuskan karena pengaruh pihak luar sebagai "menghina dan menggelikan." Ia menegaskan bahwa Presiden Trump memiliki bukti kuat dan meyakinkan bahwa Iran akan menyerang Amerika Serikat terlebih dahulu, yang menjadi dasar kebijakan tersebut.

Di sisi lain, FBI hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait penyelidikan yang sedang berjalan. Namun, satu sumber yang dikutip oleh situs berita Semafor mengonfirmasi bahwa penyelidikan terhadap Kent "berlangsung selama berbulan-bulan," mengindikasikan bahwa kasus ini telah menjadi perhatian serius bagi lembaga penegak hukum federal tersebut.

Profil Joseph Kent dan Latar Belakang Kasus

Joseph Kent bukanlah figur baru dalam lingkaran keamanan nasional AS. Ia diangkat oleh Presiden Trump untuk memimpin NCTC, sebuah badan yang bertugas menganalisis dan mengoordinasikan respons Amerika Serikat terhadap ancaman terorisme global. Dalam posisinya, Kent juga berperan sebagai penasihat utama kontraterorisme untuk Presiden, menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi sebelumnya.

Pengunduran dirinya menandai perpecahan signifikan dalam pemerintahan Trump, terutama di tengah ketegangan yang meningkat di Timur Tengah. Kasus ini juga menyoroti dinamika internal yang kompleks dalam kebijakan luar negeri AS, di mana perbedaan pendapat dapat berujung pada tindakan drastis seperti pengunduran diri dan penyelidikan hukum.

Dengan penyelidikan FBI yang masih berlangsung, nasib Joseph Kent dan implikasi lebih luas dari kasus ini terhadap kebijakan kontraterorisme AS masih harus ditunggu perkembangan selanjutnya. Publik dan pengamat politik kini mengamati dengan cermat setiap langkah yang diambil oleh kedua belah pihak dalam konflik internal yang telah menjadi sorotan media ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga