Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dalam agenda tersebut, ia didampingi langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto.
Perjalanan ke Nusakambangan
Berdasarkan pantauan, rombongan berangkat dari Dermaga Wijayapura, Cilacap, pada Sabtu (20/6/2026) pukul 09.16 WIB. Mereka menggunakan Kapal Pengayoman milik Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Imipas. Turut serta dalam rombongan adalah Dirjenpas Mashudi dan Direktur Jenderal Imigrasi (Dirjenim) Hendarsam Marantoko. Kapal tiba di Dermaga Sodong, Nusakambangan, pukul 09.29 WIB.
Transformasi Nusakambangan
Kunjungan kerja ini bertujuan untuk melihat perkembangan transformasi Nusakambangan menjadi pulau kemandirian. Sejak era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pulau yang sebelumnya dikenal seram ini berubah wajah menjadi pusat pengembangan keterampilan narapidana, mencakup sektor ketahanan pangan hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Konsep ini merupakan gagasan Menteri Agus Andrianto setelah dilantik oleh Prabowo. Saat terjadi transisi Ditjenpas dari Kementerian Hukum dan HAM ke Kemenimipas, Menteri Agus menerima laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai banyak aset Kemenimipas yang berstatus lahan tidur atau idle. Oleh karena itu, ia berinisiatif menghidupkan kembali lahan tidur tersebut dengan membangun Balai Latihan Kerja (BLK) agar para narapidana memiliki kegiatan pengembangan diri. Keterampilan yang diperoleh di BLK diharapkan menjadi bekal saat mereka bebas, sehingga tidak kembali melakukan kejahatan.
Kunjungan ke Workshop FABA
Lokasi pertama yang dikunjungi Titiek dan rombongan adalah workshop batako berbahan dasar residu pembakaran batubara, atau yang dikenal sebagai flying ash bottom ash (FABA). Pabrik berskala UMKM ini merupakan salah satu prasarana pembinaan narapidana. Workshop FABA merupakan hasil kerja sama antara Kemenimipas dengan PT PLN Persero. Pengolahan FABA tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan.



