Firdaus Oiwobo Laporkan Eks Ketua BEM UGM Tiyo ke Polres Tangsel
Firdaus Oiwobo Laporkan Eks Ketua BEM UGM Tiyo ke Polres Tangsel

Firdaus Oiwobo Laporkan Eks Ketua BEM UGM Tiyo ke Polres Tangsel

Jakarta, CNN Indonesia -- Firdaus Oiwobo telah melaporkan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, ke Polres Metro Tangerang Selatan (Tangsel). Laporan tersebut dikonfirmasi oleh Kasi Humas Polres Tangerang Selatan, Ipda Yudhi Susanto, yang menyatakan bahwa laporan polisi (LP) telah diterima pada Senin, 15 Juni 2026.

"Benar, benar ada LP-nya (Laporan Polisi)," kata Yudhi saat dikonfirmasi pada Rabu, 17 Juni 2026. Namun, Yudhi belum bersedia mengungkapkan detail perkara yang mendasari laporan Firdaus terhadap Tiyo. "Kalau itu kita belum bisa pastikan. Nanti kan dari hasil pengembangan, penyelidikan sama mekanisme gelar," ujarnya.

Yudhi hanya menyebutkan bahwa saat ini laporan tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Metro Tangerang Selatan. "Saat ini tim Satreskrim (Polres Tangsel) sedang melakukan penyelidikan untuk mengungkap perkara ini, untuk membuat rencana tindak lanjut ke depannya," tuturnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Latar Belakang Kasus

Sebelumnya, nama mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menjadi sorotan publik setelah menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Terbaru, Tiyo mengaku menemukan dua unit alat pelacak di bawah kerangka dan ban mobil yang ia kendarai. Dalam keterangannya, Tiyo merinci kronologi penemuan alat pelacak yang diduga sudah terpasang sejak Jumat, 12 Juni 2026.

Tiyo menceritakan bahwa ia berangkat dari Kudus menuju Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat pukul 14.00 WIB dengan mengendarai mobil Toyota Fortuner milik saudaranya. Sesampainya di Semarang, ia menginap di sebuah hotel di daerah Tembalang dan sempat mengunjungi beberapa tempat.

Pada Sabtu pagi, Tiyo menghadiri acara diskusi di Balai Penjamin Mutu Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Semarang. Di sana, ia mendapati beberapa orang tidak dikenal yang menguntit dan secara terang-terangan memotretnya. Setelah kegiatan berakhir sekitar pukul 12.30 WIB, Tiyo berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti demonstrasi di Pertigaan Gejayan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selama perjalanan dari Semarang ke Yogyakarta, Tiyo menyadari ada sejumlah notifikasi masuk ke ponselnya, namun ia mengabaikannya karena sedang menyetir. Setelah selesai mengikuti aksi di Gejayan, antara pukul 20.00 WIB dan 21.00 WIB, ponselnya kembali menampilkan notifikasi dari aplikasi pelacak bernama PBX Finder yang bergerak bersamanya.

Pada hari Minggu, 14 Juni 2026, sekitar pukul 12.00 WIB, Tiyo berangkat kembali ke Semarang sambil membawa alat pelacak pertama yang ia temukan. Namun, ponselnya masih terus menerima notifikasi yang sama, menandakan masih ada pelacak lain yang aktif. Tiyo awalnya mengira alat pelacak belum mati karena kurang lama direndam di air, sehingga ia kembali mengabaikannya dan menyerahkan alat tersebut kepada seorang rekannya di Semarang.

"Setelah saya pindahkan, saya menuju bandara. Loh kok notifikasi itu masih muncul lagi. Kami cari lagi dan ternyata kami temukan dalam bentuk lain yaitu lingkaran pipih ditempel menggunakan isolasi, lakban gitu hitam di bagian ban kanan belakang," beber Tiyo.

Tiyo menduga bahwa alat pertama yang ia temukan dalam kondisi bersih, sehingga kemungkinan baru dipasang saat berada di Yogyakarta. Sementara itu, alat kedua yang ditemukan di ban ternyata sudah terpasang sejak Jumat, 12 Juni 2026, dan terakhir kali diperiksa oleh pemiliknya pada pukul 19.55 WIB, saat Tiyo masih berada di hotel di daerah Tembalang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga