Kepolisian Vietnam menggerebek dua sindikat taruhan berskala "sangat besar" dengan total nilai transaksi mencapai US$ 133 juta, atau setara Rp 2,3 triliun. Penggerebekan ini dilakukan di tengah upaya pemerintah Vietnam menindak perjudian ilegal selama perhelatan Piala Dunia 2026.
Kepolisian Vietnam mengumumkan, seperti dilansir AFP pada Selasa (7/7/2026), sebanyak 85 orang telah ditangkap terkait dengan dua sindikat tersebut. Judi online dilarang di negara komunis itu, namun praktik ilegal yang sangat menguntungkan tetap marak terjadi, memicu tindakan penertiban secara berkala, khususnya saat ajang olahraga internasional.
Operasi Penggerebekan di Ho Chi Minh
Kepolisian kota Ho Chi Minh, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa operasi penggerebekan pada akhir Juni itu menargetkan dua sindikat yang memiliki "skala operasi sangat besar" serta "hierarki tinggi dan kendali yang sangat ketat". Sejak Oktober tahun lalu, menurut kepolisian, sindikat-sindikat tersebut tercatat telah melakukan transaksi ilegal dengan nilai perkiraan mencapai US$ 133 juta.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa para pemimpin sindikat mengakui telah menerima "akun-akun taruhan level master dari individu-individu di Kamboja", kemudian mereka "memecah akun-akun tersebut menjadi sejumlah akun agen dan akun anggota untuk disalurkan kepada para penjudi" online.
Pembongkaran 73 Jaringan Perjudian
Kementerian Keamanan Publik Vietnam mengatakan bahwa pekan lalu, pihak kepolisian telah membongkar 73 jaringan perjudian di berbagai wilayah, serta menangkap sedikitnya 346 tersangka yang terlibat dalam perjudian ilegal dan taruhan sepak bola selama 20 hari pertama Piala Dunia.
"Nilai transaksi dalam kasus-kasus ini mencapai ribuan miliar Dong (ratusan juta dolar Amerika)," ujar Kolonel Bui Tuan Anh dari Kementerian Keamanan Publik.
Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia tahun ini, dengan pertandingan final dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli mendatang.



