Anggota DPR Minta Maaf ke Ulama Madura Usai Kontroversi Pernyataan Narkoba
Jakarta - Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Habib Aboe Bakar Alhabsyi secara resmi menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh ulama di Madura. Permintaan maaf ini disampaikan setelah pernyataannya yang mengaitkan ulama dan pesantren dengan peredaran narkoba menimbulkan gelombang protes dan kontroversi di masyarakat.
Pernyataan Kontroversial dalam Rapat dengan BNN
Kontroversi bermula dari rapat kerja antara Komisi III DPR dengan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Suyudi Ario Seto yang digelar pada Selasa, 7 April 2026 di Madura. Dalam rapat tersebut, Aboe Bakar yang merupakan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) awalnya menekankan pentingnya sinergi antara BNN, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat dalam memerangi narkoba.
"Kami menegaskan pentingnya sinergi antara BNN, Polri, dan Pemerintah Daerah, serta seluruh elemen masyarakat dalam memerangi narkoba. Tanpa kolaborasi yang solid, upaya kita tidak akan mencapai hasil yang optimal," ujar Aboe Bakar dalam rapat tersebut.
Namun, pernyataannya kemudian berubah menjadi kontroversial ketika ia memberikan contoh temuan di Madura. Aboe Bakar menyatakan kekhawatirannya atas dugaan keterlibatan ulama dan pesantren dalam peredaran narkotika.
"Contoh, Madura. Saya itu kaget, Pak, ulama sudah mulai ikut terlibat juga dengan narkotika, coba cek benar tidak? Pesantren-pesantren itu juga, Pak. Ini ada apa? Ternyata ada cuan di situ, Pak. Ada cuan di situ, cuan-nya banyak, bukan dikit," kata Aboe Bakar dalam rapat yang kemudian videonya viral di media sosial.
Dipanggil MKD dan Menitikkan Air Mata
Akibat pernyataannya yang dianggap menyinggung dan menggeneralisasi ulama Madura, Aboe Bakar kemudian dipanggil oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR. Pada Selasa, 14 April 2026, politikus PKS ini memenuhi panggilan MKD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Aboe Bakar tiba di MKD dengan mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan peci berwarna senada. Saat tiba, ia hanya memberikan salam singkat kepada wartawan yang menunggu.
"Assalamualaikum. Insyallah lancar semua ya," ucap Aboe Bakar dengan singkat sebelum memasuki ruang sidang MKD.
Usai menjalani pemanggilan oleh MKD, Aboe Bakar tampil di depan media dengan wajah penuh penyesalan. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia secara resmi meminta maaf kepada seluruh ulama dan masyarakat Madura.
"Saudara kawan-kawan media dan saudara-saudara saya yang tercinta. Mulai dari Bangkalan, Sampang, Sumenep, dan Pamekasan. Warga Madura, ulama-ulama, tokoh-tokoh masyarakat semua. Saya harus mengatakan saya minta maaf," kata Aboe Bakar dengan penuh penyesalan.
Penjelasan dan Klarifikasi
Aboe Bakar mengakui bahwa bahasa yang digunakannya dalam rapat dengan BNN terlalu menggeneralisasi dan tidak tepat. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat sedikit pun dari dirinya untuk menghina atau menyudutkan para ulama dan pesantren di Madura.
"Saya memahami bahwa narasi yang berkembang dapat menimbulkan persepsi-persepsi seolah-olah saya menyudutkan ulama dan pesantren. Untuk itu, saya menegaskan sekali, tidak ada niat sedikit pun, tidak ada niat sedikit pun saya untuk menghina, menyudutkan para ulama, nggak ada," tegas Aboe Bakar.
Ia menjelaskan bahwa pernyataannya disampaikan dalam konteks keprihatinan atas peredaran narkoba di Indonesia. Aboe Bakar ingin mengingatkan BNN dan lembaga terkait untuk lebih waspada dan mencegah narkoba masuk ke wilayah-wilayah pesantren dan masyarakat.
"Itu guru-guru yang saya cintai semua. Dan saya hormati dan saya hargai. Kedua, perlu saya jelaskan bahwa pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks keprihatinan. Agar BNN, lembaga narkoba untuk membantu agar tidak masuk ke wilayah-wilayah pesantren dan masyarakat," sambungnya.
Komitmen untuk Lebih Berhati-hati
Politikus PKS ini mengaku bahwa peristiwa ini menjadi pembelajaran berharga baginya. Ia berjanji akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik ke depannya.
"Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih berbaik hati dalam menyampaikan, lebih berhati-hati, maksud saya, dalam menyampaikan pandangan di ruang publik. Saya berkomitmen untuk terus menjaga etika, kehormatan, dan marwah sebagai anggota Dewan Perwakilan Republik Indonesia," imbuh Aboe Bakar.
Dalam permintaan maafnya yang penuh emosi, Aboe Bakar juga menitikkan air mata sebagai bentuk penyesalan yang mendalam. Ia berharap permintaan maafnya dapat diterima oleh seluruh ulama dan masyarakat Madura yang merasa tersinggung dengan pernyataannya sebelumnya.
Kasus ini menjadi perhatian publik mengingat sensitivitas isu yang menyangkut ulama dan pesantren, khususnya di Madura yang dikenal sebagai daerah dengan tradisi keagamaan yang kuat. Pernyataan Aboe Bakar telah memicu diskusi tentang pentingnya etika berkomunikasi bagi anggota dewan, terutama ketika membahas isu-isu yang menyentuh sentimen keagamaan dan kultural masyarakat.



