ESDM Jateng Ungkap Penyebab Tanah Bergerak di Semarang Akibat Patahan Aktif
Penyebab Tanah Bergerak di Semarang Akibat Patahan Aktif

ESDM Jateng Ungkap Penyebab Tanah Bergerak di Semarang Akibat Patahan Aktif

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah (Jateng) mengungkapkan bahwa fenomena tanah bergerak yang terjadi di beberapa wilayah Kota Semarang, termasuk di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, disebabkan oleh struktur geologi aktif yang rawan pergerakan. Kepala ESDM Jateng, Agus Sugiharto, menjelaskan bahwa patahan di Jangli ternyata satu tarikan dengan patahan di Gombel, Kecamatan Banyumanik, hingga Trangkil, Kecamatan Gunungpati.

Material Lempung dan Faktor Pemicu

Menurut Agus, kawasan tersebut masuk dalam formasi damar dan formasi kerek, dengan material lempung yang mudah menyerap air tetapi sulit melepaskannya. "Secara litologi memang dicirikan hancuran-hancuran karena ada pergerakan tekanan. Jalannya lambat, tapi terjadi terus-menerus," ujarnya, seperti dilansir detikJateng, Kamis (12/2/2026).

Faktor-faktor yang memicu pergerakan tanah ini meliputi:

  • Kemiringan lereng yang curam
  • Jenis batuan lempung yang tidak stabil
  • Curah hujan tinggi yang memperburuk kondisi
  • Sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik

Jalur Patahan yang Membentang Panjang

Agus menyebutkan bahwa jalur patahan ini membentang cukup panjang di beberapa titik Kota Semarang, yang dapat dilihat dari banyaknya beton yang patah di kawasan terdampak. "Jadi selain litologinya lempung, juga merupakan daerah zona struktur geologi yang aktif, karena faktanya tiap tahun ada pergerakan di daerah itu," tegasnya.

Jika ditarik garis lurus, jalur patahan ini dimulai dari kawasan Sampangan, naik ke Jalan Dewi Sartika, melintasi Untag dan Jalan Prof Sugiyopranoto. Kemudian menyeberang tol, masuk wilayah Gombel, lalu ke Jangli hingga arah Sigar Bencah. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut memang rentan terhadap pergerakan tanah akibat aktivitas geologi yang terus berlangsung.

Dengan penjelasan ini, ESDM Jateng berharap masyarakat dapat lebih waspada dan memahami risiko yang ada, terutama di musim hujan ketika curah hujan tinggi dapat mempercepat pergerakan tanah. Pemantauan dan perbaikan sistem drainase juga menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak lebih lanjut.