Pedagang Pasar Kramat Jati Keluhkan Sampah Menggunung Meski Bayar Retribusi Rp 600.000 per Bulan
Pedagang Pasar Kramat Jati Keluhkan Sampah Menggunung

Pedagang Pasar Kramat Jati Terdampak Tumpukan Sampah yang Mengganggu Aktivitas Ekonomi

Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengungkapkan keluhan serius mengenai tumpukan sampah yang menggunung dan tidak kunjung diangkut, sehingga sangat mengganggu aktivitas jual beli mereka. Kondisi ini telah berlangsung cukup lama tanpa penanganan maksimal dari pihak berwenang.

Keluhan Utama Pedagang: Bau Menyengat dan Akses Tersumbat

Salah satu pedagang, Suratno (52), menyatakan bahwa jalan di sekitar pasar semakin menyempit akibat sampah yang menumpuk. "Dulu masih lega, sekarang kendaraan susah lewat," ujarnya. Selain itu, bau busuk dari sampah buah dan sayuran yang membusuk menjadi masalah utama, bahkan masuk hingga ke dalam kios pedagang, mengganggu kenyamanan berdagang.

Suratno menambahkan bahwa kondisi ini berdampak signifikan pada kelancaran distribusi barang di pasar, yang merupakan bagian vital dari operasional pasar induk yang memasok pangan ke berbagai wilayah.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Retribusi Kebersihan Rp 600.000 per Bulan Tidak Sebanding dengan Kondisi Lingkungan

Pedagang lainnya, Susanti (49), mengeluhkan bahwa penanganan sampah tidak membaik, meski mereka terus membayar retribusi kebersihan. Pedagang dikenakan biaya retribusi sekitar Rp 600.000 hingga Rp 900.000 per bulan, tergantung luas kios. Namun, kondisi lingkungan pasar dinilai tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

"Tidak ada keringanan, padahal sampah numpuk terus. Kita tetap ditagih tiap bulan, bahkan telat sedikit langsung diperingati," tutur Susanti. Dia berharap ada langkah cepat dari pengelola pasar atau pemerintah untuk mengatasi persoalan ini, yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan jika dibiarkan.

Sampah Mencapai Ketinggian Enam Meter, Melebihi Lampu Jalan

Pada Minggu (29/3), tumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) terlihat menggunung hingga mencapai sekitar enam meter, bahkan melampaui ketinggian lampu penerangan jalan di sekitarnya. Tidak ada aktivitas pengangkutan sampah yang terlihat pada hari itu.

Genangan air di sekitar tumpukan sampah juga membuat jalan menjadi becek dan licin, meningkatkan risiko bagi pedagang dan pekerja yang melintas. Pedagang menduga penumpukan ini terjadi karena terbatasnya armada pengangkut menuju TPST Bantargebang, sehingga sampah tidak terangkut secara rutin.

Secara keseluruhan, kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan pedagang yang merasa dirugikan oleh buruknya pengelolaan sampah, meski telah membayar retribusi yang cukup besar setiap bulannya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga