Staf Bawaslu di OKU Selatan Tewas Dibunuh oleh Pacarnya, Motif Sakit Hati
Polisi telah mengungkap kasus pembunuhan tragis yang menimpa seorang staf Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan. Korban, berinisial MS (39), ditemukan tewas di dalam rumahnya, dan ternyata pelakunya adalah pacarnya sendiri, SHLNN (34).
Motif Pembunuhan karena Ucapan Kasar
Kasat Reskrim Polres OKU Selatan, AKP Anton L Sinaga, menjelaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan, tersangka mengaku sakit hati akibat kata-kata kasar yang diucapkan oleh korban. "Berdasarkan pemeriksaan yang kami lakukan terhadap tersangka, dugaannya karena sakit hati akibat kata-kata kasar yang diucapkan korban," kata Anton, seperti dilansir dari sumber berita.
Peristiwa ini berawal ketika tersangka datang ke rumah korban pada hari Jumat (22 Maret 2026) pagi dan menginap selama empat hari. Pada Selasa (24 Maret) sekitar pukul 10.00 WIB, terjadi cekcok mulut antara korban dan tersangka, yang dipicu oleh ucapan korban yang dinilai merendahkan dan menyakiti perasaan tersangka.
Kronologi Tindak Kriminal yang Brutal
Dalam keadaan tersinggung, tersangka kemudian melakukan tindak kriminal dengan mencekik leher korban hingga tidak berdaya. Tidak berhenti di sana, tersangka lalu mengambil pisau dari dalam tasnya dan menggorok leher korban hingga meninggal dunia. Untuk menghilangkan jejak, tersangka merapikan pakaian dan membersihkan darah yang menempel di tubuh korban.
Setelah itu, tersangka mengambil barang-barang berharga milik korban, termasuk laptop, handphone, dompet berisi uang tunai, serta identitas diri korban. Tindakan ini menunjukkan upaya pelaku untuk menyembunyikan kejahatannya dan mengambil keuntungan dari situasi tersebut.
Implikasi dan Respons Otoritas
Kasus ini menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat dan lembaga terkait, mengingat korban adalah seorang staf Bawaslu yang terlibat dalam proses pengawasan pemilu. Polisi terus melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan semua aspek hukum terpenuhi dan pelaku diadili sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Insiden ini juga menyoroti pentingnya pengendalian emosi dan resolusi konflik yang sehat dalam hubungan interpersonal, untuk mencegah tindak kekerasan yang dapat berakibat fatal.



